Laman

Minggu, 13 Agustus 2017

Garis Besar Menyusun Khotbah Yg Berpusat Pd Kristus



GARIS BESAR MENYUSUN
“CHRIST-CENTERED PREACHING”
 Oleh : Pdt Paulus Surya

TEXT ALKITAB: __________________

1.   Mempelajari dan Menafsirkan bacaan Alkitab:

(i)          Observasi

(ii)         Interpretasi

2.   Menemukan “Christ-Centered Message” -nya

3.   Menemukan Amanat Teks dan Amanat Kotbah dengan cara:

(i)          Topik apa yang dibicarakan ? (Subyek)

(ii)         Apa yang dikatakan tentang topik itu? (Komplemen)

(iii)        Amanat Teks : Subyek + Komplemen

(iv)       Amanat Kotbah (berdasar AT)

4.   Menyusun, mengembangkan dan mengisi kerangka kotbah (berdasarkan AK)

(i)          Pertanyaan apa yang dapat kita pakai untuk mengembangkan AK, yang jawabannya ada dalam teks Alkitab yang dikhotbahkan (Kalimat Tanya)

(ii)         Poin-poin kotbah (bisa 1,2,3 dst)

(iii)        Mengembangkan Poin kotbah
a. Penjelasan (P)
b. Ilustrasi: (I)
c. Aplikasi (A)

(iv)       Menempatkan “Christ-Centered Message” nya


5.   Membuat Pendahuluan, Penutup dan Judul Kotbah
(Contoh khotbah Christ-Centered)

DANIEL 6:13-29
TRUST IN GOD


AMANAT TEKS

-          Subyek:
Daniel tetap bersandar (taat) pada Tuhan ditengah masalah yang menghimpitnya

-          Komplemen:
Ia mengalami berkat-berkat Tuhan yang ajaib

-          AT:
Daniel tetap bersandar kepada Tuhan meskipun ada masalah yang menghimpitnya, maka ia mengalami berkat-berkat Tuhan yang ajaib

 KERANGKA KOTBAH

      -     Pendahuluan:

-   Amanat Kotbah:
Orang percaya yang tetap bersandar kepada Tuhan ditengah masalah yang menghimpitnya, akan mengalami berkat-berkat Tuhan yang ajaib dalam hidupnya

          -     Kalimat Tanya:
(berdasarkan Daniel 6:13-29) Apa saja berkat Tuhan yang ajaib yang akan dialami oleh orang-orang percaya yang tetap bersandar pada Tuhan ditengah masalah yang menghimpitnya?


-          Poin 1: Penyertaan Allah

Penjelasan:
Pada saat Daniel dimasukkan ke gua singa, maka Allah menyatakan penyertaanNya kepada Daniel melalui mengirimkan malaikatNya (bandingkan dengan Mazmur 34:8). Bagaimana jika ada orang percaya yang bersandar pada Tuhan tapi tetap akhirnya mengalami kematian? Lukas 16:22 mencatat bahwa Allah juga mengirimkan malaikatNya membawa orang percaya kehadapanNya. Inilah penghiburan sejati bagi orang percaya yang bersandar kepadaNya. Baik hidup maupun mati, Tuhan menyertainya.
(Christ-Cenetered Message – nya: Tema Berulang)

= Yesus adalah wujud paling nyata bahwa Allah menyertai kita. Dia adalah Imanuel, Allah beserta kita (Matius 1:21-23)

Ilustrasi:
             a. Pertanyaan pertama dari Katekismus Heidelberg
             b. Seorang ibu naik kapal yang diamuk ombak besar


Aplikasi:
Penyertaan Allah adalah berkat Tuhan yang ajaib bagi orang yang bersandar kepadaNya, yang memberi ketenangan dan damai sejati


-          Poin 2: Melihat PertolonganNya yang ajaib

Penjelasan:
Dalam hidup yang taat dan bersandar pada Tuhan, Daniel melihat pertolongan Allah yang ajaib terjadi dalam hidupnya. Ia dimasukkan ke gua singa yang penuh dengan singa-singa yang ganas, tapi ia selamat dari kematian.
(Christ-Centered Message-nya: Sejarah Penebusan) Pertolongan Tuhan yang ajaib seperti ini dilakukan Allah berulang-ulang dalam sejarah umatNya yang hidup bersandar kepadaNya:
·         Nuh dan keluarganya diselamatkan
·         Yusup di tolong Tuhan
·         Bangsa Israel dari perbudakan di Mesir
·         Israel kembali dari pembuangan
·         Karya terbesar: Yesus menyelamatkan umatNya dari dosa (Mat 1:21)

Mengingat pertolongan Tuhan yang ajaib dalam Yesus Kristus yang menyelamatkan kita, akan memampukan kita untuk mengatasi berbagai persoalan hidup (bandingkan dengan 1 Kor 10:13 dan Roma 8:32).

Ilustrasi:
a.       Bendahara yang jujur

Aplikasi:

  
-          Poin 3: Memiliki kesempatan hidup bagi Allah

Penjelasan:
Ayat 29 mencatat, ”Dan Daniel ini memiliki kedudukan tinggi pada zaman pemerintahan Darius”. Dengan kedudukan tinggi ini, Daniel diberi kesempatan luar biasa oleh Tuhan untuk hidup bagi kemuliaanNya. Daniel sangat ditinggikan dari sebelumnya sangat direndahkan. Apa yang dialami Daniel ini sebenarnya secara tipologi maupun analogi bisa menjadi gambaran tentang Yesus (Christ-Centered Message-nya: Tipologi & Analogi):
·         Daniel dicari-cari kesalahannya oleh para pejabat pemerintahan untuk dicelakakan; Yesus dicari-cari kesalahannya oleh imam-imam kepala, ahli taurat dan orang-orang Yahudi.
·         Daniel tidak ditemui kesalahannya; Yesus juga tidak ditemui kesalahannya
·         Daniel dibela oleh Darius untuk diselamatkan tapi gagal; Yesus juga dibela oleh Pilatus untuk dilepaskan tapi gagal
·         Daniel dimasukkan ke gua singa lalu ditutup dengan batu dan dimeteraikan; Yesus dikubur dan kuburnya juga ditutup dengan batu dan dimeteraikan
·         Daniel pagi-pagi benar ditemui Darius masih hidup; Yesus pagi-pagi benar ditemui oleh para wanita juga hidup: Ia telah bangkit dari kematian.

= Yesus lebih besar daripada Daniel. KematianNya dan kebangkitanNya menyelamatkan setiap orang yang percaya. Inilah berita yang harus kita sebarkan tatkala kita diberi kesempatan untuk hidup bagiNya. Inilah juga berita yang memampukan kita untuk hidup bagiNya.

              Ilustrasi:

a.       Gamachis, pemuda Ethiopia naik bus masuk jurang
b.      Wanyama Humphrey, pria dari Kenya yang selamat dari penembakan sebuah bus yang ia tumpangi
                                               
              Aplikasi:

Bila saat ini kita masih diberi kesempatan untuk hidup didunia, mari kita pakai untuk hidup bagi kemuliaanNya. Meninggikan Pribadi Yesus dan karyaNya.

               Penutup



Jumat, 30 Juni 2017

Mengapa Perkawinan Tidak Bahagia ?


Suatu kisah yg inspiratif :

Dua Orang Baik tapi Mengapa Perkawinan Tidak Bahagia?

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil saya melihatnya begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur untuk ayah karena lambung ayah kurang baik.
Setelah itu, masih harus memasak nasi untuk anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan...
Setiap sore, ibu selalu menyikat panci supaya tidak ada noda sedikitpun.
Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan rumah agar tidak berdebu.

Ibu adalah seorang wanita yang sangat rajin. Namun, di mata ayah, ibu bukan pasangan yang baik. Tidak hanya sekali ayah menyatakan kesepian dalam perkawinan, tapi saya tidak memahaminya...
Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu dan saat libur ayah punya waktu untuk mengantar kami ke sekolah. Ia seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berprestasi dalam pelajaran.

Ayah adalah seorang laki-laki yang baik di mata anak-anak, ia besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami.
Hanya saja, di mata ibu, ia bukan pasangan yang baik. Kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam-diam.
Saya melihat dan mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka. Seharusnya mereka layak mendapat perkawinan yang baik.

Saya bertanya pada diri sendiri, "Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?"

Setelah dewasa, akhirnya saya memasuki perkawinan dan perlahan-lahan saya mengetahui jawaban itu...

Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, rajin bekerja dan mengatur rumah dengan sungguh2 berusaha memelihara perkawinan sendiri.
Anehnya, saya tidak merasa bahagia dan suamiku sepertinya juga tidak bahagia. Saya merenung, mungkin rumah kurang bersih, masakan tidak enak, lalu dengan giat saya membersihkan rumah dan memasak dengan sepenuh hati.

Namun, rasanya, kami berdua tetap tidak bahagia. Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan rumah, suami saya berkata, "temani aku sejenak mendengar alunan musik!"
Dengan mimik tidak senang saya berkata, "Apa tidak melihat masih ada separoh lantai lagi yang belum dipel?"

Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan Ibu. Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkawinan mereka. Ada beberapa kesadaran muncul...

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan teringat akan ayah yang tidak mendapat apa yang dia butuhkan dalam perkawinannya.
Waktu ibu habis untuk membersihkan rumah pada hal yg dibutuhkan ayah adalah menemaninya. Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan. Ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih namun ibu jarang menemani ayah. Ia berusaha mencintai ayah dengan caranya.

KESADARAN MEMBUAT SAYA MEMBUAT KEPUTUSAN YANG SAMA
Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.
Saya bertanya pada suamiku, "Apa yang kau butuhkan?"

"Aku membutuhkanmu untuk menemaniku... Rumah kotor sedikit tidak apa-apa.." ujar suamiku.
Saya kira dia perlu rumah yang bersih, ada yang memasak, dst.
"Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku."
Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut. Kami meneruskan menikmati kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya cara yang diinginkan pasangan kita.

Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja. Begitu juga suamiku, dia menderetkan sebuah daftar kebutuhanku.
Puluhan kebutuhan yang panjang dan jelas. Misal: Waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling memeluk setiap pagi, memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat, dstnya.

Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang sulit. Misal: "dengarkan aku, jangan memberi komentar". Ini adalah kebutuhan suami.

Kalau saya memberinya usul, dia bilang dirinya merasa tampak seperti orang bodoh. Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki.
Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya, kalau tidak saya hanya mendengarkan dengan serius...

Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun jauh lebih bermakna dalam pernikahan kami...

Bertanya pada pasangan kita, "Apa yang kau inginkan?" ternyata dapat menghidupkan pernikahan.

Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah dan ibu tidak bisa bahagia, MEREKA TERLALU BERSIKERAS MENGGUNAKAN CARA SENDIRI DALAM MENCINTAI PASANGANNYA, BUKAN MENCINTAI PASANGANNYA DENGAN CARA YANG DIINGINKAN PASANGANNYA.

Kita mungkin sangat lelah melayani pasangan kita, namun dia tidak menghargai... Akhirnya kita kecewa dan hancur.

Allah, Sang Pencipta telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya, SETIAP ORANG PANTAS DAN LAYAK MEMILIKI SEBUAH PERKAWINAN YANG BAHAGIA, asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan oleh pasangan kita.

KJ 318

Berbahagia tiap rumah tangga,
di mana Kaulah Tamu yang tetap:
dan merasakan tiap sukacita
tanpa Tuhannya tiadalah lengkap;
di mana hati girang menyambutMu
dan memandangMu dengan berseri;
tiap anggota menanti sabdaMu
dan taat akan Firman yang Kaub’ri.

Berbahagia rumah yang sepakat
hidup sehati dalam kasihMu,
serta tekun mencari hingga dapat
damai kekal di dalam sinarMu;
di mana suka-duka ‘kan dibagi;
ikatan kasih semakin teguh;
di luar Tuhan tidak ada lagi
yang dapat memberi berkat penuh.

Salam hangat dari team Nafiri Kasih .. semoga bermanfaat ..

Kamis, 29 Juni 2017

Memikul Salib


MEMIKUL SALIB

Markus 8:34
Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. 

Yesus menetapkan 2 syarat utk mengikut Dia, yaitu:

1. Menyangkal diri
Membuat Tuhan lebih utama dibanding hidup kita sendiri, hidup kita bukanlah milik kita lagi sehingga bukan kita yg menuntut Allah tapi Allah yg berhak menuntut segala sesuatu dari kita karena Dialah yg memiliki kita.
Mengalahkan kedagingan dg hidup dipimpin oleh Roh Kudus & taat melakukan firman.
Salah satu ciri murid yg 'menyangkal diri' adalah dia yang hidup selalu bersyukur.

2.Memikul salib,
yaitu sebuah proses perjalanan via dolorosa mengalahkan beban kehidupan sampai kepada kematian (disalib) terhadap beban tsb  (masalah tdk lg menguasai kita), sehingga kita akan beroleh persekutuan dg kuasa kebangkitanNya & beroleh kemenangan.

Kemenangan tidak selalu berarti beban masalah sudahselesai, bisa saja belum selesai tapi sudah tdk lagi menjadi beban.

Demikianlah menjadi pengikut Kristus ... bersyukurlah karena suatu kehormatan & kepercayaan dari Tuhan kalau kita boleh menyangkal diri & memikul salib. Amin.

Hidup berkemenangan bukan hidup tanpa masalah, tp hidup yg menguasai masalah
Tetap semangat, Tuhan memberkati.

Rabu, 08 Maret 2017

IMAN


Roma 1 :16-17
Kebenaran Allah (God's righteousness) adalah dr awal hingga akhir.

2 pokok besar :
1. Kebenaran Allah
2. Dari iman memimpin kpd iman

Kebenaran Allah adalah :

1. Keadilan Allah yg adil

2. Keadilan Allah itu berjalan tdk di dlm vakum tp selalu berada di dlm konteks, konteks mengenai perjanjian antara Allah & manusia, sebagai suatu perjanjian (covenant) dng bangsa Israel.

3. Kebenaran Allah sbg tindakan Allah yg menyelamatkan. Harus diterima dng iman, secara pribadi.

Dalam Roma 6 : 17 di dlm Injil, nyata kebenaran Allah (tindakan Allah yg menyelamatkan) diterima oleh iman. Iman yg diterima dr awal sampai akhir hidup kita.

"Orang benar akan hidup oleh iman"
Orang benar = orang yg berbuat benar baru bs beriman (pengertian orang Katholik pd masa Martin Luther) .
Orang benar dlm bhs Yunani = org yg dibenarkan .
Dinyatakan benar oleh Tuhan, krn darah Kristus (justification by faith). Sejak pertama
kita menerima Yesus sampai akhir. Tindakan Allah yang menyelamatkan, org percaya harus memegang kebenaran Tuhan itu sampai akhir hidup kita.

St. Francis dr Asisi, mempunyai pengalaman pertama wkt berdoa dan dia melihat salib, dia mendengar suara Tuhan, "maukah engkau memperbaiki gerejaku?"  Setiap kali dia melihat salib (the cross of st. Francis), dia menangis karena mengingat pengorbanan Kristus.

Pada saat awal, sadar Kristus mati untuk dosaku. Kalau pegang iman kita, akankah kita tega berbuat dosa? Menyalibkan Yesus terus menerus dlm hidup kita?

Belajar hidup oleh iman keoada Yesus yang telah mati bagi saya dr awal hingga akhir hidup, hiduplah  bersama Kristus yg menyelamatkan kita.

Hiduplah dengan benar di hadirat Tuhan Yesus yg selalu mengasihi kita.

## End ##


Selasa, 07 Maret 2017

Menangis Itu Juga Baik


MANANGIS ITU JUGA BAIK

"Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur" (Matius 5:4). 

Mengapa bayi gampang menangis? Menurut Dr. Gheetanjali Shah ada 5 makna positif membiarkan bayi sesekali menangis:
(1) Tangisan bayi pada waktu lahir akan memperkuat organ2 pernafasannya.
(2) Bayi yang menangis sedang belajar berkomunikasi.
(3) Bayi yang menangis sedang belajar mengatasi masalah.
(4) Bayi menangis karena mereka mau bertumbuh secara fisik.
(5) Menangis melatih bayi menyalurkan beban emosi yang negatif. 

Sesekali menangis juga baik untuk kehidupan rohani. Kalau kita masih bisa berduka dan menangis, artinya kita:
(1) mau belajar bersandar pada Tuhan.
(2) bersedia diasah dan dibentuk oleh Tuhan menjadi  orang yang lebih baik.
(3) bisa belajar bersimpati pada orang lain.
(4) berusaha lebih berhikmat dengan cara mencari jawaban dari firman Tuhan.
(5) belajar untuk sabar menantikan Tuhan menggenapi rencana-Nya yang indah!

Bagaimana menurut Anda ?