Tampilkan postingan dengan label ilustrasi kristen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilustrasi kristen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 September 2025

5 ALASAN MENGAPA BERIMAN KEPADA YESUS PASTI MASUK SURGA


 5 Alasan Mengapa Beriman Kepada Yesus Pasti Masuk Surga

Shalom bapak ibu saudara saudari

Ada  seorang pria bernama Andreas yang sedang bergumul dengan pertanyaan besar dalam hidupnya: "Apakah aku benar-benar akan masuk surga?" Dia sering pergi ke gereja, tetapi belakangan ini pertanyaan itu terus mengganggu pikirannya. Suatu hari, dia memutuskan untuk bertemu dengan seorang Pendeta yang sangat dihormati, yang bernama Pendeta Jonathan.

Saat Andreas duduk di kantor sederhana Pdt Jonathan, ia mengungkapkan kegelisahannya. “Saya percaya dan beriman kepada Yesus, tapi bagaimana saya tahu pasti bahwa saya akan masuk surga?”

Pdt Jonathan tersenyum lembut, lalu berkata, “Andreas, ada lima alasan kuat yang membuatmu bisa yakin akan hal itu. Mari kita bahas bersama-sama.”

Alasan pertama, Pdt Jonathan memulai, “Keselamatan adalah anugerah, bukan hasil usahamu sendiri. Efesus 2:8-9 mengajarkan bahwa kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman kepada Yesus. Jadi, tidak ada perbuatan manusia yang bisa membuat kita layak. Ketika kamu beriman kepada Kristus, kamu sudah menerima anugerah ini.”

Andreas mengangguk, merasa sedikit lebih tenang, tapi masih ingin tahu lebih banyak.

Pdt Jonathan melanjutkan. “Yang kedua, pengorbanan Kristus di kayu salib telah menebus dosa-dosa kita. Ibrani 9:28 mengatakan bahwa Yesus menanggung dosa banyak orang satu kali untuk selama-lamanya. Dengan beriman kepada-Nya, dosa-dosamu sudah diampuni, dan kamu dianggap benar di mata Allah.”

“Jadi, bukan tentang seberapa baik aku, tetapi seberapa besar kasih Yesus?” tanya Andreas.

“Benar sekali,” jawab Pdt Jonathan. “Itulah yang membawa kita ke alasan ketiga. Yesus menjanjikan hidup yang kekal kepada mereka yang beriman kepada-Nya. Yohanes 3:16 mengatakan bahwa Allah mengasihi dunia ini dan memberikan Anak-Nya supaya siapa pun yang percaya kepada-Nya tidak binasa, tetapi memperoleh hidup kekal. Ini adalah janji Yesus sendiri—dan janji Tuhan tidak pernah gagal.”

Mata Andreas mulai berbinar, seolah mulai mengerti.

“Lalu ada alasan keempat,” lanjut Pdt Jonathan. “Ketika kamu beriman, Roh Kudus berdiam di dalam kamu. Efesus 1:13-14 mengatakan bahwa Roh Kudus adalah jaminan keselamatanmu, meterai dari Allah sendiri. Kehadiran Roh Kudus dalam hidupmu adalah tanda bahwa Allah mempersiapkanmu untuk surga.”

Andreas tersenyum sekarang. “Roh Kudus seperti tanda bahwa aku sudah terdaftar di surga, ya?”

“Betul,” kata Pdt Jonathan tersenyum sambil mengangguk. “Dan akhirnya, alasan kelima: kebangkitan Yesus Kristus. Dalam Yohanes 11:25-26, Yesus berkata bahwa Dia adalah kebangkitan dan hidup. Karena Yesus telah mengalahkan maut, kita yang beriman kepada-Nya juga akan hidup bersama-Nya. Kematian bukan akhir, tapi pintu menuju hidup kekal bersama Allah.”

Akhirnya Andreas merasakan damai di hatinya. Semua kekhawatirannya perlahan menghilang.

Pdt. Jonathan menutup percakapan mereka dengan berkata, “Andreas, ketika kamu beriman kepada Yesus, kamu bisa yakin sepenuhnya bahwa surga sudah menjadi tujuan akhir hidupmu. Bukan karena apa yang kamu lakukan, tetapi karena apa yang Yesus sudah lakukan untukmu. Itu adalah janji Allah yang tidak pernah ingkar.”

Dengan hati yang penuh syukur, Andreas pulang malam itu dengan keyakinan baru. Ia tidak lagi merasa gelisah, karena ia tahu bahwa beriman dengan sungguh kepada Kristus sudah cukup untuk memastikan tempatnya di surga.

Salam hangat dari Nafiri Kasih, Tuhan Yesus memberkati.

 

Kamis, 25 September 2025

APAKAH GEREJA MASIH EXIST ?



 



APAKAH GEREJA MASIH EXIST ? “Hidup dalam Misi, Bertumbuh dalam Pemuridan, Nyata dalam Pelayanan” ?

Setiap bulan September, gereja kami GKI Gading Serpong memperingati Bulan Misi. Perayaan ini tentu bukanlah sekadar tradisi tahunan atau rangkaian kegiatan liturgis belaka, melainkan sebuah pengingat bahwa gereja dipanggil untuk hidup dalam misi setiap hari. Bermisi bukan hanya dilakukan dalam satu bulan tertentu, melainkan menjadi napas kehidupan gereja sepanjang tahun. Bulan September hanyalah sebagai pengingat agar kita kembali memeriksa diri: apakah sasaran dan strategi pelayanan kita sudah sejalan dengan yang Yesus kehendaki?

Yesus sendiri telah menegaskan dalam Matius 28:19:

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku...”

Amanat Agung yang diberikan kepada murid-murid sebelum kenaikan-Nya kesurga sudah seharusnya menjadi catatan penting bagi panggilan gereja. Yesus tidak hanya memerintahkan untuk pergi dan mengabarkan Injil, tetapi juga menekankan adanya proses pemuridan, yaitu menjadikan semua suku bangsa murid-Nya. Pemuridan merupakan suatu cara yang didisain dengan sengaja untuk membawa orang hidup dalam Yesus, bertumbuh dalam iman, dan pada gilirannya akan mengabarkan Injil kepada orang lain. Inilah siklus kehidupan gereja yang sehat, misi melahirkan murid, murid bertumbuh, dan murid pun bermisi, begitu seterusnya.

Sementara itu, dalam Kisah Para Rasul 1:8, Yesus menambahkan dimensi penting lainnya:

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Di sini kita melihat bahwa hidup dalam misi bukanlah pekerjaan manusia semata. Gereja tidak dipanggil untuk mengandalkan kekuatan manusia atau sumber dayanya sendiri, melainkan mengandalkan kuasa Roh Kudus. Tanpa Roh Kudus, bisa jadi bermisi hanya menjadi aktivitas gersang, dan ini mengingatkan kita pada jemaat di Sardis yang ditegur Tuhan seperti yang tertulis dalam Wahyu 3:1 “engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati !”.

Tetapi dengan Roh Kudus, bermisi menjadi kesaksian hidup yang menghadirkan kuasa Yesus di tengah dunia.

Misi dan Pemuridan: Dua Hal yang Menyatu

Sering kali orang membandingkan mana yang lebih penting: misi atau pemuridan. Tetapi sesungguhnya keduanya tidak dapat dipisahkan. Misi tanpa pemuridan akan melahirkan orang-orang yang tidak bertumbuh dalam iman. Pemuridan tanpa misi akan membuat gereja nyaman dalam lingkarannya sendiri tanpa peduli dengan penginjilan. Jadi jika salah satunya diabaikan maka amanat agung belum menjadi dasar panggilannya.

Misi adalah gerak keluar untuk berjumpa dengan dunia, bersaksi dan memberitakan Injil. Pemuridan adalah gerak ke dalam untuk menumbuhkan iman. Kedua arah ini harus berjalan bersama agar gereja sungguh hidup dalam panggilan-Nya.

Murid Sejati pasti menghadirkan Kasih dalam Perbuatan

Namun, misi dan pemuridan bukan hanya soal kata-kata atau pengajaran. Yesus sendiri menegaskan dalam Matius 25:40:

“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Ayat ini mengingatkan kita bahwa misi dan pemuridan harus diwujudkan dalam tindakan kasih yang nyata. Ketika kita berbelas kasihan kepada yang lapar, yang haus, yang sakit, atau yang terabaikan, sesungguhnya kita sedang melayani Yesus sendiri.

Dengan kata lain, pengajaran tentang kasih harus berjalan bersama dengan praktek kasih. Gereja tidak hanya dipanggil untuk mengajarkan firman, tetapi juga menghadirkan kasih Allah dalam tindakan yang nyata kepada yang membutuhkan dan tersisih sehingga banyak orang mengalami kasih Yesus yang pada akhirnya bisa berlanjut sebagai  jembatan untuk pemuridan.

Ilustrasi Sederhana

Bayangkan seorang petani yang menanam padi. Ia tidak hanya menabur benih lalu pergi begitu saja. Ia juga harus merawat, menyiram, membersihkan gulma, bahkan melindungi dari hama. Tanpa perawatan itu, benih yang sudah ditabur mungkin tumbuh, tetapi tidak menghasilkan buah yang maksimal.

Begitu juga dengan misi dan pemuridan. Misi adalah menabur benih dengan tindakan kasih yang nyata (Mat. 25:40) dan pemberitaan Injil (Mat. 28:19). Pemuridan adalah merawat benih yang tumbuh itu agar tumbuh kuat dan berbuah lebat (Mat.28:19). Jika gereja hanya menabur tetapi tidak merawat, maka hasilnya tidak akan maksimal. Sebaliknya, jika hanya merawat tetapi tidak menabur, maka tidak ada ladang baru yang akan menghasilkan panen baru.

Pertanyaan untuk direnungkan :

Pada bulan Misi di bulan September 2025 ini mari kita bersama merenung :

  • Apakah pelayanan yang kita lakukan selama ini sudah berdasarkan ungkapan syukur dan kerinduan kita untuk terus bertumbuh menjadi murid Yesus ?
  • Apakah kita sudah bergerak bukan hanya ke dalam, tetapi juga keluar, menjadi saksi Yesus bagi dunia?
  • Apakah tindakan kasih kita nyata, sehingga orang lain melihat Yesus dalam diri kita?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting agar kita tidak terjebak hanya pada aktivitas tanpa arah, atau pembinaan tanpa tujuan yang jelas (random). Misi dan pemuridan adalah panggilan utama yang tidak boleh diabaikan.

Untuk itu, gereja perlu memiliki strategi yang jelas dan disengaja, salah satunya adalah menanamkan kesadaran pentingnya bermisi dan menjadi murid Yesus yang terus bertumbuh, pada setiap anggota jemaat dan mendorongnya untuk terus menyaksikan kasih-Nya dalam segala hal dengan terus mengandalkan Roh Kudus dalam doa dan ketaatan pada firman Tuhan.

Penutup

Bulan Misi bukanlah akhir, melainkan awal pengingat kembali akan panggilan gereja untuk hidup dalam misi, bertumbuh dalam pemuridan dan nyata dalam pelayanan.

Matius 28:19 menegaskan sasaran kita, Kisah Para Rasul 1:8 memberi kita kuasa, dan Matius 25:40 mengajak kita untuk membuktikannya.

Amin.

Soli Deo Gloria,

Salam hangat untuk sahabat Nafiri Kasih dimanapun Anda berada ...

  





Senin, 28 Maret 2022

Renungan Kehidupan Bagi Kita


Renungan Kehidupan Bagi Kita

Ada seorang dermawan yang dari atas gedung menebar uang pecahan:
Rp. 5.000,- Rp. 10.000,- Rp. 20.000,-  Rp. 50.000,- dan Rp. 100.000,-
Di bawah gedung, berkerumun banyak orang yang sibuk. Mereka saling berebut memunguti uang yang berserakan "TANPA ADA YANG PEDULI" sumber uang itu dari SIAPA.

Suatu saat, Sang Dermawan naik lagi ke atas gedung tersebut dan kali ini beralih menebar kerikil-kerikil kecil ke dalam kerumunan orang yang ada di bawah
Sontak terjadi keramaian. Ada yang terkena di kepala, bahu, tangan, punggung dan anggota tubuh lainnya. Mereka panik dan marah, menengadah ke atas berusaha "MENCARI TAHU" dari mana sumber dari kerikil-kerikil tersebut dijatuhkan.

Itulah sikap dari kebanyakan manusia, saat mendapat berkat atau hal yang menguntungkan, semua sibuk tanpa peduli siapa yang memberi dan sedikit sekali yang mampu berterima kasih dan mau mengucap syukur atas keberkahan tersebut.

Namun saat masalah datang, maka semua akan spontan mencari sumber masalah dan biang keroknya. Mereka akan serta-merta marah dan menyalahkan orang lain tanpa mau cari solusi lagi.
 
Apakah kita hanya mau menerima yang baik saja, tetapi tidak mau menerima yang buruk ?
Tanpa mau tahu bahwa hidup ini sebenarnya sudah satu paket, baik dan buruk, senang dan susah, semuanya satu kesatuan yang tak mungkin terpisahkan.

Bila suatu ketika kita "kena giliran" menjalani hal-hal buruk dan susah, maka jalanilah dengan tabah dan tetap bersyukur, karena hanya itu kuncinya.

Mau belajar SABAR?
Nanti kita akan ketemu dengan orang-orang yang keras kepala kepada kita.

Mau belajar MENGAMPUNI?
Nanti kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang menyakiti kita.

Mau belajar MEMBERI?
Sebentar lagi kita akan dihadapkan dengan orang-orang yang berkekurangan.

Mau belajar RENDAH HATI?
Tunggu saja, nanti akan ada orang-orang yang merendahkan diri kita.

Kabar buruknya, "HIDUP INI TAK ADA YANG SEMPURNA !"
Kabar baiknya, "KITA TAK PERLU HIDUP SEMPURNA UNTUK BISA MENIKMATINYA”

Apapun yang sedang kita hadapi, itulah PROSES BELAJAR MENJADI LEBIH BIJAKSANA & DEWASA.
JANGAN MARAH & MENGGERUTU, tapi belajarlah dan responilah dengan benar.
HIDUP ADALAH PROSES PEMBELAJARAN dan KEDEWASAAN.

Pembelajaran hanya bisa diperoleh pada situasi yang tidak sesuai harapan kita, bukan saat kita dalam kenyamanan.
Jadilah "murid kehidupan" dengan BELAJAR BERSYUKUR & MENGAMBIL HAL POSITIF dari setiap peristiwa yang kita hadapi.

Berusahalah SABAR dalam kesedihan,
Berusahalah SABAR dalam kekecewaan,
Berusahalah SABAR dalam kesakitan,
Berusahalah SABAR dalam musibah,
Berusahalah SABAR dalam ujian hidup.

SABAR itu susah,
SABAR itu capek,
SABAR itu sakit,
SABAR itu bikin stres,
Akan tetapi, jika kita mampu melewatinya, maka SABAR itu akan menjadi sebuah KEINDAHAN.

Ada kalanya dibutuhkan senyuman untuk menangis,
Ada kalanya dibutuhkan airmata untuk bahagia,
Ada kalanya dibutuhkan canda untuk melepas lelah,
Ada kalanya dibutuhkan penat untuk mengukur arti kedamaian,
Ada kalanya dibutuhkan "musuh" untuk menjadi korektor,
Ada kalanya dibutuhkan "teman" untuk berbagi.
Dengan berbagi, melatih kesabaran, dan menerima kenyataan hidup dengan penuh rasa syukur, kita sesungguhnya berjalan menuju kebahagiaan hidup yang kita dambakan, hidup yang ceria, damai, harmonis dan penuh sukacita. 

Segala sesuatu dapat kutanggung didalam DIA yang memberi kekuatan kepadaku oleh karena itu  bersukacitalah senantiasa didalam Tuhan , Amin ##

Rabu, 01 September 2021

SEJARAH GKI KUTOARJO


Sejarah Jemaat Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwe di Kutoarjo , Cikal Bakal GKI
 Kutoarjo

Sumber : gkiswjateng.org

Pnt.Detta mulai dng mengatakan: “Kutoarjo adl salah satu kecamatan yg ada di kabupaten Purworejo. Kecamatan yg juga menjadi sentra perdagangan di Kabupaten ini ternyata punya arti di balik namanya, Kuto artinya kota, dan Arjo berarti makmur atau sejahtera. Jadi Kutoarjo adl “Kota yg makmur sejahtera” begitu lah artinya. Kedengarannya memang mantab sekali.” (Namanya juga hidup dlm pengharapan)

Awalnya, GKI Kutoarjo merupakan buah karya Zending Gereformeerd Kerhen Uhechl yg diutus dari negeri Belanda.  Pertama kali kebaktian diadakan pd thn 1906, dengan menggunakan bahasa Jawa di rumah Sdr. Oei Boen Gie di Jl. Pecinan 22, Kutoarjo, atas pelayanan guru injil Samuel dan Soetodimedjo. Warga Tionghoa banyak yg tertarik, shg  mulai thn 1928 kebaktian dilakukan dlm bahasa Tionghoa.  Jemaat pertama ini diberi nama Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwe. 

Jemaat ini tdk bertahan lama krn banyak dari mrk yg kembali ke negeri Tiongkok, shg anggota yg masih tinggal di Kutoarjo bergabung dengan GKJ dan mengadakan kebaktian setiap hari Selasa di rumah Sdr. Oei Gwat Siang. Ketika thn 1934 berdiri sekolah Chr. H.C.S., kebaktian dilakukan di sana setiap hari Senin dalam bahasa Indonesia.  Pd thn1935, kebaktian diubah menjadi setiap hari Minggu dan bertempat di rumah Sdr. Oei Gwat Ling, Jl. Raya 103, Kutoarjo, dng pelayan kebaktian Ds. S. H. Liem (Liem Siok Hie) dari Semarang. Thn 1936, Zending Gereformeerd Kerhen Uhechl mengutus Sdr. Tan King Hien untuk melayani sbg guru injil di Kutoarjo.  Tgl 12 Desember 1938, jemaat  Kutoarjo resmi memiliki gedung gereja sendiri di Jl. Raya 76, Kutoarjo. Pada tanggal 13 November 1941, jemaat Kutoarjo didewasakan.  Sejak didewasakan butuh waktu sekitar 20 thn sebelum Jemaat ini memiliki pendeta sendiri. Silih berganti para guru Injil melayani Jemaat Kutoarjo: guru injil Tan King Hien thn 1942 digantikan oleh Sdr. The Sing Liong, thn1943 digantikan oleh Sdr.  Tjoa Tjien Touw, thn 1950 digantikan oleh Sdr. Liem Djing Tiang, lalu kosong 2 thn dan thn 1953 masuklah Sdr. Nio Djoen Tjwan yg melayani smp thn 1961. Setelah kosong bbrp bulan masuklah Sdr. Djie Poen Hian dari Wonosobo. (seru ya, mirip Kej 5, daftar keturunan Adam)  Akhirnya, pd tgl 10 Oktober 1961, Sdr. Djie Poen Hian ditahbiskan menjadi Pendeta pertama Jemaat Kutoarjo.

Masih banyak hal-hal lain lagi yg terjadi di GKI Kutoarjo, tetapi jikalau semuanya itu hrs dituliskan satu per satu, maka agaknya introduksi ini tdk dpt memuat semua yg hrs ditulis itu.  Jadi..., ya Anda lihat sendirilah dalam dokumen sejarah GKI Kutoarjo dlm situs gkiswjateng.org  Saat ini GKI Kutoarjo yg menurut BI-BKI 2020 anggotanya berjumlah 258 org sedang berproses bersama Pnt. Andetta Philiea Dorothea sebagai calon pendeta. Pnt.Detta akan menemani kita dlm SG-GKI hari Rabu 1 Sept 2021. (Intro diambil dari catatan Pnt.Detta, dokumen sejarah GKI Kutoarjo dlm situs gkiswjateng.org, disunting oleh RN)


Selasa, 31 Agustus 2021

APA YANG DICARI DALAM HIDUP INI ?



 "Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu"

Tema : APA YANG DICARI DALAM HIDUP INI ? 
Nats : Pengkhotbah 1:2;2:21-23; Mazmur 1:1-3; Yeremia 17:7,8

Tujuan:
Belajar mengerti bahwa tujuan hidup bukanlah sekedar ini dan itu tapi melakukan apa yang dikehendaki Allah, yang perlu dicari adalah hal yang terpenting bukan hal duniawi.

Pendahuluan

Beberapa puluh tahun yang lalu, ada beberapa negara yang produksinya yang sangat baik, barang tersebut dapat digunakan sampai puas dan demikian awet, misalnya barang-barang produksi Jerman atau dari RRC. Modelnya memang kurang menarik tapi mutunya luar biasa. Tahan lama dan tahan banting. Beda dengan produksi zaman sekarang, sekali pakai lalu buang, jika yang dibeli bergaransi 1 tahun, maka setelah pakai 1 tahun barang tersebut dijamin akan rusak.

Juga, karena dizaman industri, segala macam barang kebutuhan sehari-hari demikian banyaknya dipasarkan di toko-toko pusat perbelanjaan, dipasar, super market dan warung-warung. Semua barang kebutuhan dapat ditemukan dengan berbegai mode, bentuk dengan warna yang indah. Harga tidak terlalu mahal, namun barang-barang tersebut tidak mungkin dapat dipakai terlalu lama, apalagi akan diwariskan kepada anak-anak dikemudian hari. Jika di simpan, dua bulan kemudian sudah ketinggalan mode, dan sudah dianggap barang ketinggalan zaman. Jadi jangan pikir barang tersebut akan diwariskan atau disimpan sampai 25 tahun kemudian. Habis garansi dijamin barang tersebut sudah dipensiunkan dan tidak bakalan akan dipakai oleh anak cucu lagi.

Barang-barang industri zaman sekarang tidak menunjukan bahwa kita kaya, atau kebahagiaan hidup kita, semua itu hanya menunjukan bahwa kita sedang mengikuti trendnya zaman. Trendnya zaman yang sia-sia, yang membosankan.

Ada yang menganggap dengan adanya kedudukan berarti hidupnya akan bahagia, benarkah demikian? Berapa lama kedudukan akan berpihak pada kita? Bukankah kedudukan itu lebih menggambarkan kita bermain curang? Berapa banyak orang yang dapat mempertahankan kedudukannya tanpa harus main curang ?

Jika kita mendengar pengajaran yang disampaikan oleh Pengkhotbah, maka kita akan mengerti bahwa sebenarnya segala sesuatu diakhiri dengan kesia-siaan

Pengkhotbah 1:2;2:22,23. Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, segala sesuatu adalah sia-sia. Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya? Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram. Inipun sia-sia.

Jika demikian apakah benar orang yang berpendapat bahwa kebahagiaan terletak pada perkara duniawi, seperti memiliki harta benda, kedudukan, kekayaan, prestasi ??

Tuhan Yesus memberikan pengajaran yang indah untuk kita renungkan bersama pada hari ini Markus 8:36,37. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?

Selanjutnya kita akan merenungkan bersama beberapa pokok pengajaran penting:

1. Orang berkata: No money no happy.

Orang Tapanuli ( Batak) berkata ise mengatur negara on, hepeng! Siapa yang mengatur negara ini ? Jawabannya adalah, UANG ! Dengan uang kita dapat mengatur negara. Kalau demikian kita harus cari uang yang banyak. Orang Inggeris berkata Time is Money. Waktu adalah uang, jadi jangan sia-siakan waktu. Kalau orang Tionghua Chien paling penting, Uang adalah segalanya, bagi orang Tionghua dilangit ada dewa kekayaan yang boleh kita ajak kongkalikong. Bagaimana pula dengan orang Jawa ? Ooh, gampang, cari aja Nyi Blorong, sembahlah dia maka kekayaan akan datang dengan limpahnya.

Karena itu banyak orang yang ingin mencari kekayaan nyawapun dia rela gadaikan, bukankah orang yang demikian banyak terdapat disekitar kita?

Ilustrasi:

Saudara yang kekasih, Ada satu keluarga di Jawa Timur, dapat dikatakan keluarga ini sangat kaya, namun dalam keluarga ini diantara beberapa anaknya terdapat satu yang idiot, satu lagi tabrakan mobil hingga hancur. Isteri menjadi gila. Kasihan sekali, jika mendengar cerita keluarga ini, tetapi apa yang mau dikata? Untuk mendapatkan kekayaan tersebut kepala keluarga ini telah menggadaikan isteri dan anak-anaknya pada kuasa kegelapan.

Kekayaan apakah penting ? Penting sekali! Uang juga sangat dan sangat diperlukan sekali dalam kehidupan di zaman modern ini, tapi bukan yang utama dan yang mendatangkan kebahagiaan. Uang hanyalah alat yang membantu kita untuk bertransaksi, jadi bukan tuan, bukan yang mengatur kehidupan kita. Uang hanyalah alat bantu belaka.

Ingatlah apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus di Markus 8:36,37. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?

Apa gunanya dengan banyak uang, harta benda, tetapi tidak dapat dan tidak bisa menggunakannya atau menikmatinya? Apakah mereka yang berlimpah kekayaannya berbahagia? Bukankah kekayaan itu hanyalah sesuatu yang relatif saja? Orang yang menyalahgunakan kemampuan diri, yang memelihara kuasa kegelapan demi kekayaan, orang kaya yang demikian percayalah tidak pernah akan bahagia. Ketika melihat isteri yang gila apakah bahagia? Ketika melihat anak yang idiot apakah bahagia? Ketika mengingat anak mati karena tabrakan apakah akan bahagia?

Saudara, Dalam Alkitab bukankah Tuhan Yesus pernah mengajar Matius 6:19,20. "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.

Kalau kita lalai maka kekayaan dunia akan menjadi alat untuk mengundang pencuri datang mencuri dan merampok. Sekalipun sudah dibuatkan pagar rumah yang tinggi, memelihara anjing yang paling galak, memasang alram dan segala macam pengaman untuk menyelamatkannya, namun apa yang terjadi? Ngengat dan karat, bahkan perampok menghabiskannya. Jika Tuhan mengizinkannya, peristiwa Ayub akan terulang kembali, hanya dengan satu hari satu malam saja, seluruh harta benda Ayub habis dan hilang dirampok

Saudara yang kekasih, dari pengajaran Tuhan Yesus diatas cukup jelas, bahwa kita perlu melipat gandakan harta kekayaan kita, yaitu dengan menginveskannya dalam sorga yaitu dalam pekerjaan Tuhan. Dengan harta kekayaan, kita membangun Kerajaan Allah dalam dunia ini, membantu pekerjaan Tuhan dalam misi, dalam gereja, di sekolah Teologi, panti asuhan dan banyak lagi pekerjaan Tuhan yang lainnya.

Dengan demikian harta kekayaan yang kita inves kan di tempat-tempat tersebut akan membuat kita menerima berkat yang ganda; dalam dunia dan dalam sorga. Tambah memberi untuk pekerjaan Tuhan di dunia, berarti akan bertambah pula hati kita untuk pekerjaan Tuhan dan sorga, artinya kita menginveskan harta kita untuk pekerjaan Tuhan dalam dunia dan secara otomatis di sorga kita juga mendapatkan harta yang kekal. Selanjutnya Tuhan Yesus mengajar, Matius 6:21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Kalau harta kita ada pada pekerjaan Tuhan kita akan mengusahakan pekerjaan Tuhan itu bertumbuh dan berkembang, ingatlah, bahwa apa yang di inves kan dalam pekerjaan Tuhan ini memiliki nilai kekal. Jika harta kita berada di sorga, maka kita juga menaruh hati yang rindu ke sorga. Karena itu janganlah menyimpan harta dalam dunia ini tetapi menyimpannya dalam pekerjaan Tuhan dan di sorga. Jadi jelas kita perlu membuat harta kekayaan yang ada pada kita itu berlipat ganda, berganda baik dalam dunia dan dalam sorga yang akan datang. Itulah arti kebahagiaan yang bernilai kekal.

Dapat mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan merupakan kebahagiaan tersendiri sebab tidak selamanya Tuhan mempercayakan dan memberi kesempatan pada kita untuk mengambil bagian dalam pekerjaanNya. Dapat dikatakan tidak selalu ada kesempatan untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Misalnya, orang miskin yang sedang tidak punya uang untuk berobat, atau anaknya yang tidak punya uang untuk membayar uang sekolah, saat kita tahu, jika tidak segera menolong, mungkin dua tiga hari kemudian ketika kita sadar, orang miskin tersebut sudah meninggal dunia. Mungkin saat kita menyadari bahwa kita perlu menolong anak yang tidak mampu bayar uang sekolah, saat itu anak tersebut sudah di usir dari sekolahnya. Bukankah sering kita menemukan bahwa adakalanya ketika mau menolong orang yang tidak mampu, namun kita sudah tidak punya kesempatan lagi.

Saudara, Jangan berkata bagaimana saya dapat menolong orang, jika saya sendiri tidak punya ? Menolong orang tidak mesti harus dengan kekayaan, dapat menolong dengan tenaga, kepintaran, kemampuan dllnya. Bukankah kita sering mendengar, menolong orang jangan berikan ikan padanya, tetapi berikanlah kail padanya!

Kita membaca Kis Ras 20:35 Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima."

Janganlah kita menjadi orang yang have money but no happy.

2. Yang harus dicari Orang dalam hidup ini

Mazmur 1:1,2,3. Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Yeremia 17:7,8. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Saudara sebagai orang Kristen mungkin kita sering membaca dan mendengar firman tersebut dalam khotbah hari Mianggu, dan sangat menyadarinya bahwa kedua bagian Alkitab tersebut adalah kebenaran, dan pasti adalah kebenaran, tetapi kebenaran yang hanya tertulis dalam Alkitab saja, bukan dalam hati dan kehidupan nyata.

Pemazmur memberikan pengajaran pada kita, yaitu jangan mengambil bagian dalam kehidupan orang fasik, dalam hal berjalan dengan mereka, atau berdiri dan duduk dalam perkumpulan orang fasik Sebab orang yang disebut fasik adalah orang yang tahu ada TUHAN Allah, tetapi tidak mempedulikan perintah-Nya, tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan. Orang fasik dapat disamakan juga dengan orang atheis praktis, beda dengan orang atheis teoritis yang berpendapat bahwa Tuhan tidak ada berdasarkan teori-teori tertentu, misalnya komunisme. Sedangkan atheis praktis secara teoritis tidak menyangkal adanya Tuhan, tetapi secara praktis tidak mengakui dan menyembahNya. Orang atheis praktis tetap mengakui Tuhan, tetapi hidupnya seolah-olah Tuhan tidak ada. Siapa yang menganut faham atheis praktis ini ? Ada kemungkinan dianut oleh orang-orang yang beragama, mungkin juga yang sedang duduk bersama kita dalam gereja.

Saudara yang kekasih, ada sebagian orang, membutuhkan TUHAN karena ada suatu kebutuhan, Tuhan hanyalah kebutuhan tambahan atau penolong tambahan. Yaitu, jika sudah tidak berdaya, sudah tidak sanggup lagi menolong diri sendiri, misalnya, sakit yang tidak tertolong lagi oleh dokter, utang yang sudah bertumpuk tidak sanggup lagi membayar, barulah Tuhan dicari. Jadi, Saudara, janganlah menjadi orang yang hanya menganggap TUHAN itu sebagai bagian dari kebutuhan saja. Terlebih lagi sebagai ban serap saja.

Sebagai orang yang percaya pada Tuhan Yesus janganlah kita seperti orang fasik. Pemazmur berkata bahwa orang fasik seperti sekam yang ditiupkan angin, dan TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan. Mazmur 1:4,6

Tuhan Yesus memberikan pengajaran pada kita dalam Matius 6:33, Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Mencari kerajaan Allah dan kebenaranNya, adalah seperti yang dikatakan Pemazmur, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Inilah orang yang berbahagia, yaitu orang yang sanggup bergaul, hidup dekat dengan TUHAN, Pemazmur mengumpamakannya seperti pohon, Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Nabi Yeremia berkata: Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.Yer 17:7,8

Penutup:

Bukankah indah sekali janji firman Tuhan? Pohon ditepi aliran air, daunnya selalu hijau, tidak kuatir dalam tahun kering atau panas terik, dan ini yang terpenting, tidak berhenti menghasilkan buah. Bukankah dengan terlebih dahulu mencari Kerajaan Allah dan KebenaranNya kita memperoleh segala yang dibutuhkan ?

Apa yang sedang kita cari dalam hidup ini? Yang bernilai kekal, atau yang bernilai fana, sesuatu yang sementara? Apa yang sedang kita cari ? Mencarinya dengan bersandar pada TUHAN atau mencarinya dengan segala kemampuan diri? Tuhan Yesus berkata dalam Matius 11:28, Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Jika kita datang kepada TUHAN maka Ia akan memberikan kebahagiaan, kelegaan pada kita, maukah kita datang padaNya? Dia sedang mengundang kita, Dia sedang menunggu kita, apalagi yang sedang engkau cari? AMIN.

Rabu, 09 Desember 2020

PANGGILAN MELAYANI TUHAN BUKAN OPSIONAL


PANGGILAN MELAYANI TUHAN BUKAN OPSIONAL

Matius 25:14-30

Melayani Tuhan itu bukan opsional. Banyak orang memberi berbagai macam alasan – terlalu tua, terlalu muda, terlalu sibuk, terlalu lelah, terlalu sakit – dan seterusnya. Padahal semua alasan itu dapat dipatahkan oleh kebenaran ayat Alkitab yang berkata bahwa orang percaya “diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Tuhan sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:10).

Melayani tidak tergantung pada kesehatan, usia atau pengalaman. Saya kenal beberapa orang yang harus terbaring di tempat tidur yang mempersembahkan hidupnya sebagai pendoa syafaat. Dan saya sudah bertemu dengan orang-orang kudus yang tidak pernah belajar di seminari namun selalu memuridkan orang-orang percaya baru. Yang membedakan orang-orang ini dari orang-orang yang membuat banyak alasan adalah sikap. Jika kita memandang diri kita sebagai pelayan, kita akan berpusat pada Tuhan dan bergantung pada Roh Kudus. Namun jika kita sibuk mencemaskan tentang bagaimana, kapan dan berapa banyak pengorbanan yang harus kita lakukan untuk Tuhan, kita berpusat pada diri sendiri dan, terus terang, tidak banyak berguna bagi Tuhan.

Suatu hari kelak kita akan berdiri di hadapan Tuhan, dan Dia akan meminta pertanggung jawaban kita tentang bagaimana kita sudah menggunakan segala talenta dan karunia rohani yang Dia berikan pada kita. Apa yang dapat kita katakan pada-Nya untuk membenarkan penyia-nyiaan kesempatan yang Dia berikan pada kita dalam menggunakan karunia-karunia itu? Tidak ada alasan yang dapat diterima. Berserah penuh pada kehendak Tuhan adalah kunci untuk berkenan kepada-Nya.

Tuhan memberi kita talenta dan kemampuan dengan tujuan, dan Dia akan memperlengkapi kita dalam pelayanan yang lebih besar lagi bagi kerajaan-Nya. Jika kita melayani Dia dengan segenap hati, kita dapat berharap mendengar Dia berkata, "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; ... Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu" (Matius 25:21). ##

Rabu, 07 Oktober 2020

MENGATASI MARAH


Mengatasi MARAH

Kolose 3:8-17

Orang Kristen dipanggil untuk membuang segala "kemarahan, kegeraman, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor" (Kolose 3:8). Perintah ini jelas, tetapi proses mencapai dan mempertahankan tujuan ini bisa jadi membingungkan dan membuat kewalahan.

Langkah pertama adalah mengenali adanya kemarahan dalam hati kita. Langkah ini mungkin tidak diperlukan bagi orang-orang yang ekspresif, tetapi bagi orang-orang yang suka memendam kemarahan diperlukan waktu bersama Tuhan untuk merenungkan dan menyelidiki jiwanya. Kemarahan yang sudah membara dan menguasai hati dapat menimbulkan kehancuran besar; diperlukan pedang Firman Tuhan yang tajam untuk menyingkapkan kemarahan yang membara dalam dada (Ibrani 4:12).

Langkah selanjutnya adalah mengakui kemarahan yang tidak benar itu sebagai dosa dan mulai mengatasinya dengan segera. Karena kemarahan seringkali merupakan respons terhadap luka, kita harus berhati-hati agar tidak memaafkan atau mempertahankannya atas nama keadilan. Jadi, sekalipun orang lain yang berbuat salah pada Anda, perlu disadari bahwa menyimpan kemarahan sebagai respons juga dosa. Alkitab mengajarkan kita untuk mengatasi kejahatan dengan kebaikan, bukan membalas kejahatan dengan kejahatan (Roma 12:17, 21).

Sebagian orang ingin terus melekat pada perasaan-perasaan gusar, padahal memelihara sikap geram tidak akan tertahankan; kemarahan harus disingkirkan. Jika kita mempertahankan "hak" kita untuk menyimpan dendam, kita tak bisa berharap dapat hidup sebagai manusia baru yang Kristus ciptakan untuk kita.

Tempat kita mendapat kekuatan adalah di dalam manusia baru yang seperti Kristus itu. Dan kita bertanggung jawab untuk mengenakan manusia baru itu. Tuhan mengundang kita untuk bekerja sama dengan-Nya dalam proses transformasi itu. Melalui setiap langkah ketaatan kita, damai sejahtera Kristus akan bertambah dan kemarahan akan berkurang. #

Senin, 05 Oktober 2020

DOA PADA SAAT TAK BERDAYA


DOA PADA SAAT TAK BERDAYA

Nehemia 2:1-10

Hati Nehemia sangat susah ketika ia mendengar keadaan yang sangat menyedihkan dari orang-orang Yahudi yang baru saja kembali ke Yerusalem dari pembuangan (Nehemia 1:3-4). Begitu Tuhan mendapatkan perhatian Nehemia, Dia dapat menunjukkan apa yang Dia mau Nehemia lakukan.

Alkitab tidak menyebutkan reaksi Nehemia sebagai orang yang menyadari bahwa dirinya harus menjadi bagian dari solusi, tetapi kita dapat membayangkan rasa tak berdaya yang dialami Nehemia. Bagaimana ia bisa menolong? Ia tidak berada di dekat Yerusalem, dan sebagai pelayan minuman raja, ia tidak bisa langsung berkemas-kemas dan pergi begitu saja.

Namun, setiap kali Tuhan menaruh beban di hati kita, Dia akan membuka jalan bagi kita untuk melakukan kehendak-Nya. Dalam hal ini, Tuhan memakai ekspresi sedih Nehemia dan doanya yang sungguh-sungguh untuk menyiapkan raja yang tidak mengenal Tuhan itu mengutusnya pergi memenuhi tugas itu.

Bagaimana respons Anda ketika Anda merasa Tuhan memanggil Anda untuk melakukan tugas yang tampaknya di luar kemampuan Anda? Apakah Anda menyebutkan semua alasan bahwa Anda tidak mungkin dapat melakukannya? Tuhan sudah mengetahui segala sesuatu tentang diri Anda dan situasi itu. Dia tidak akan meminta izin Anda untuk melanjutkan, Dia memanggil Anda untuk bergerak maju dengan percaya kepada-Nya. Anda dapat menolak, tetapi Anda akan kehilangan berkat-berkat dari kehidupan yang dijalani dalam ketaatan kepada-Nya.

Tuhan akan memperlengkapi Anda untuk melakukan apa pun yang Dia mau Anda lakukan. Dan karena Roh Kudus tinggal di dalam diri setiap orang percaya, kita memiliki semua yang kita perlukan untuk memenuhi tugas ilahi kita. Alih-alih membiarkan ketidakberdayaan menghalangi Anda untuk taat, buatlah ketidakberdayaan itu justru mendorong Anda untuk berdoa agar Anda dapat bersandar pada kuasa dan hikmat Tuhan. #

Minggu, 04 Oktober 2020

MAKSUD PENDERITAAN KITA


 Maksud Penderitaan Kita

1 Petrus 4:12-14

Kita tak seharusnya berharap kehidupan Kristen kita mudah dan nyaman, karena orang percaya tidak akan luput dari masalah. Bahkan, menjadi orang Kristen bisa menambah masalah dan penderitaan. Petrus menyebut kesusahan semacam ini sebagai "nyala api siksaan," dan berkata supaya kita tidak heran (1 Petrus 4:12). Tuhan memakai penderitaan kita untuk tujuan-tujuan-Nya yang baik, dan Dia ikut melaluinya bersama kita. Harapan di tengah penderitaan itu mungkin jika kita mengerti apa yang sedang Tuhan kerjakan dalam situasi itu.

Pertama, Bapa surgawi terkadang memakai pengalaman-pengalaman yang menyakitkan untuk memurnikan kita. Penderitaan mendorong kita datang kepada Tuhan dan membuka mata kita terhadap dosa yang sudah kita tolerir. Disiplin-Nya bukan dirancang untuk meremukkan kita tetapi untuk menghasilkan "buah kebenaran yang memberikan damai sejahtera" (Ibrani 12:11).

Kedua, Tuhan sering membiarkan kesulitan sebagai sarana untuk menguji kita. Tujuan-Nya adalah meningkatkan iman, ketahanan, dan ketaatan kita kepada-Nya. Alih-alih mengeluh, kita seharusnya bersukacita dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu kesengsaraan itu akan menghasilkan karakter yang teruji di dalam diri kita (Roma 5:3-4).

Ketiga, Tuhan memakai penderitaan untuk menyatakan kuasa-Nya. Berbagai masalah merendahkan hati kita dan menyingkapkan kelemahan-kelemahan kita (2 Korintus 12:7-10). Semua ini mengajar kita untuk bersandar pada Tuhan dalam mendapatkan kekuatan untuk bertekun dan menjadi dewasa.

Keempat, penderitaan kita membawa manfaat kekal. "Penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kita kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya" (2 Korintus 4:17).

Kiranya kebenaran-kebenaran ini mendorong Anda untuk melihat penderitaan Anda berikutnya dari perspektif Tuhan. Meskipun Anda pada saat itu mungkin tidak merasakanya, Tuhan menyertai Anda. Dialah pengharapan dan andalan Anda. #

Rabu, 23 September 2020


PEKERJAAN ROH KUDUS

Yohanes 16:7-15

Jika ada yang bertanya, apa pekerjaan Roh Kudus, bagaimana jawab Anda? Sebagian orang Kristen mungkin tidak tahu apa yang sedang Dia kerjakan dalam hidup mereka, tetapi pekerjaan Roh Kudus bukanlah misteri –Alkitab sudah memberitahu kita tentang peran Penolong ilahi kita itu.

Dia menginsafkan kita akan dosa (Yohanes 16:8). Inilah langkah awal yang menyadarkan kita pada kebutuhan akan keselamatan. Dan sesudah itu Roh Kudus melanjutkan dengan menyatakan dosa dalam hidup kita agar kita dapat segera mengakui dosa itu dan menerima pengampunan (1 Yohanes 1:9).

Dia memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran(Yohanes 16:13-14). Roh Kudus mengajarkan tentang Yesus Kristus dan Firman Tuhan, dan Dia menolong kita membedakan antara kebenaran dan kekeliruan.

Dia memenuhi kita (Efesus 5:18). Dipenuhi Roh Kudus berarti Dia memimpin jalan kita, seperti perahu yang digerakkan oleh angin yang memenuhi layarnya. Untuk dipenuhi oleh-Nya, kita perlu menyerahkan hidup kita kepada-Nya, mengakui bahwa Dia memiliki kita dan berhak memimpin hidup kita.

Dia menghasilkan buah melalui kita(Galatia 5:22-23). Roh Kudus menghasilkan kualitas-kualitas yang tak pernah dapat kita hasilkan sendiri secara konsisten: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri.

Meskipun Roh Kudus mendiami dan memeteraikan kita pada saat kita diselamatkan, karya-Nya dalam hidup setiap orang percaya butuh waktu seumur hidup. Dialah Penolong kita yang tetap, yang mengubah kita menjadi makin seperti Kristus dan memperlengkapi kita dalam tantangan hidup sehari-hari, sehingga kita tak perlu berjuang sendiri dalam kehidupan ini. Di dalam segala kesulitan, konflik dan kesedihan, Dia memimpin jalan kita, menjagai hati kita dan mengaruniakan hikmat-Nya pada kita. #


Selasa, 22 September 2020

MELIHAT RINTANGAN DARI KACA MATA TUHAN


Melihat Rintangan dari KacamataTuhan

Yosua 2:1-24

Yerikho adalah kota pertama yang perlu ditakhlukkan bangsa Israel untuk menduduki tanah Kanaan. Ketika mengirim dua orang mata-mata untuk menyelidiki, Yosua mungkin tidak menyadari bahwa ia akan menerima kilasan pandangan impresif Tuhan di balik tindakan itu.

Kita tak boleh lupa untuk melihat setiap rintangan dari kacamata kekuatan dan sumber dayaTuhan yang tak terbatas. Segala sesuatu yang tampaknya merintangi rencana-Nya adalah kesempatan bagi Dia untuk menunjukkan kuasa-Nya yang berdaulat. Hanya karena kita tidak melihat sesuatu terjadi, tidak berarti Dia tidak bekerja. Tuhan terus bekerja di sisi lain rintangan kita, mengatur segala detailnya dan membuat rencana-Nya berhasil.

Ketika mata-mata itu kembali kepada Yosua, mereka melaporkan bahwa penduduk di Yerikho sangat ketakutan. Setelah mendengar tentang orang Yahudi yang dibebaskan dari perbudakan Mesir dan membelah Laut Merah, mereka dikuasai rasa takut akan Tuhan. Medan perang telah siap ditakhlukkan, meski pada saat itu, Yosua belum melakukan apa-apa. Kita sering berpikir bahwa kita perlu terlibat dalam solusi masalah kita, padahal Tuhan tidak terbatas dalam menggunakan siapa atau apa saja untuk menggenapi kehendak-Nya. Dalam hal ini, Dia bekerja di hati musuh dengan menimbulkan ketakutan yang menggentarkan.

Bagi orang Kristen, rintangan-rintangan besar tidak perlu menjadi alasan untuk berkecil hati. Meskipun banyak aktivitas Tuhan yang tidak terlihat dan terdengar, kita boleh yakin bahwa Dia terus bekerja menggenapi kehendak-Nya dalam hidup kita. Ketika bagian-bagian rencana-Nya sudah berada pada tempatnya, Dia akan membawa kita kepada kemenangan. ##

Senin, 03 Agustus 2020

DITINGGAL DI BUMI UNTUK MELAYANI




RENUNGAN KRISTEN : Ditinggal di Bumi untuk Melayani
Efesus 2:8-10

Menurut Anda, mengapa Tuhan membiarkan Anda tetap tinggal di bumi dan tidak langsung diangkat ke surga ketika Anda diselamatkan? Pikirkan semua bentuk kesulitan dan kesedihan yang tidak  akan lagi Anda alami. Bayangkan sukacita yang Anda rasakan bersama Kristus di surga. Tetapi lalu pertanyaannya lagi-lagi adalah: siapa yang akan tinggal di bumi untuk memberitakan Injil keselamatan kepada orang lain jika semua orang percaya diangkat dari dunia ini?

Jika Anda masih hidup dan bernapas, itu berarti Bapa surgawi punya tujuan untuk Anda, ada pelayanan yang harus Anda lakukan. Jangan bayangkan pelayanan itu hanya sebagai hal yang dilakukan di gedung gereja oleh sekelompok orang pilihan. Melayani Tuhan adalah tanggung jawab setiap orang percaya. Untuk melakukan "pekerjaan-pekerjaan baik, yang dipersiapkan Tuhan sebelumnya, supaya kita hidup di dalamnya" (Efesus 2:10).

Meskipun cara kita melayani bisa berubah dari waktu ke waktu, kita tak pernah dipanggil untuk berhenti dan tidak melakukan apa-apa. Orang kudus yang terikat di tempat tidur pun dapat berdoa bagi orang lain atau memberikan kata-kata penyemangat bagi orang-orang yang menjenguk atau memberi perhatian padanya. Tujuan orang percaya bukan hanya datang ke gereja, mendengar khotbah, dan menerima makanan rohani yang cukup untuk menjalani minggu berikutnya. Tujuan hidup kita adalah melayani Tuhan dengan sepenuh hati, mencerminkan kasih Yesus melalui hidup kita. Ibadah kita kepada Tuhan dan ajaran Firman-Nya adalah hal yang menopang dan memperlengkapi kita untuk saling melayani dan mengabarkan Injil ke dunia.

Seluruh hidup Anda dimaksudkan untuk menjadi tindakan pelayanan bagi Tuhan. Jika Anda hidup untuk mencapai tujuan dan kebahagiaan Anda sendiri, Anda pada akhirnya akan kecewa. Namun jika Anda hidup dalam pekerjaan-pekerjaan baik yang sudah disiapkan Tuhan untuk Anda, Anda akan mengalami kepuasan karena sudah hidup sesuai dengan rancangan penciptaan Anda. ##

Rabu, 29 Juli 2020

DOKTRIN : MEMPERSATUKAN ATAU MEMECAH BELAH ?




DOKTRIN : MEMPERSATUKAN ATAU MEMECAH BELAH ?

Apa itu Doktrin ?

Pertama-tama perlu kita memisahkan apa yang kebanyakan orang pahami / kesan orang secara umum tentang doktrin dengan apa yang Alkitab katakan tentang doktrin.

Kebanyakan masyarakat lebih dipengaruhi oleh pendapat umum atau pendapat mayoritas yang pada jaman sekarang “tidak suka” dengan doktrin , karena doktrin dianggap bisa memecah belah, atau karena pernah punya pengalaman dengan orang yang menjelaskan doktrin tetapi bermasalah digerajanya, ada juga pemahaman dijaman sekarang guna mengedepankan toleransi maka mengajak kita untuk menerima perbedaan.
Atau timbul prasangka yang negative ketika berbicara doktrin, karena doktrin diangap sebagai  mata kuliah untuk mereka yang studi di seminari, doktrin isinya cuma perdebatan dan lain sebagainya.

Pendapat-pendapat umum tersebut diatas perlu dibedakan dengan apa yang Alkitab katakan dalam Kisah Para Rasul 2 : 41 – 42 sbb :  Orang-orang yang menerima parkataanNYa itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.
Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.

Jadi istilah doktrin itu didalam Alkitab secara sederhana bisa dikatakan adalah “pengajaran” dari rasul-rasul

Dalam Efesus 2 : 19 – 20
Ef 2:19 Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, 2:20 yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

Titus 2 : 1
Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat.

Jadi bisa disimpulkan menurut ayat Alkitab tersebut diatas, doktrin adalah pengajaran para rasul atau nabi , atau ajaran dari seluruh isi Alkitab, yang akan membedakan orang Kristen dengan non Kristen.
Pada dasarnya doktrin itu memisahkan dari apa yang Alkitab ajarkan dengan yang bukan Alkitab ajarkan, tetapi perlu digaris bawahi bahwa bukan berarti doktrin itu MEMECAH BELAH.

Didalam perjalannya, pengajaran gereja tersebut kemudian disistimatiskan dalam kategori-kategori tertentu, misalnya doktrin Allah, yang artinya ajaran Alkitab tentang Allah, doktrin Kristus , doktrin Roh Kudus dst.

Pada waktu doktrin dikembangkan dalam detailnya misalnya doktrin Allah, Allah itu siapa, sifat-sifat Allah seperti apa , pekerjaan Allah itu apa saja, dari situ bisa muncul perbedaan-perbedaan penafsiran dan perbedaan pendapat.

Pemahaman doktrin didalam Alkitab, bisa dikelompokan kedalam doktrin utama/primer, doktrin sekunder dan tersier .. prinsipnya harus dimulai dengan apa yang Alkitab katakan dengan jelas harus diterima sebagai doktrin primer yang menjadi identitas kita sebagai orang Kristen.
Yang primer itu seperti, Kristus mati untuk dosa-dosa kita dan IA dibangkitkan pada hari yang ketiga 1 Kor 15 : 3 - 4
Doktrin seperti ini harus kita pegang, proklamasikan dan kita pertahankan.

Untuk lebih lengkapnya, silahkan lihat videonya di :

Salam hangat dari team Nafiri Kasih.




Kamis, 23 Juli 2020

TUHAN MENCIPTA, MANUSIA IKUT SERTA "MENGHADAPI COVID 19" - serial 1


Istilah Tuhan Mencipta Manusia Ikut Serta (TUMMIS), pertama kali dicetuskan oleh Pdt Natan Setiabudi pada tahun 1996, pada saat beliau menjabat sebagai Ketua Umum GKI Jabar Full Time yang pertama.
Tema ini setelah lebih dari 24 th masih dipakai oleh GKI Jawa Barat sampai sekarang , dimana saat ini namanya telah menjadi SinWil Jawa Barat.

Ada 2 pemahaman dari TUMMIS yang perlu disadari yaitu :

  1. Tuhan Mencipta , sebagai TEMA UTAMA ALKITAB, kemudian baru Penyelamatan.   Manusia sebagai satu-satunya ciptaan yang dicipta SEGAMBAR DENGAN ALLAH supaya bisa mencipta bersamaNYA ternyata jatuh dalam DOSA.  Jadi disain Allah itu telah diganggu oleh dosa , tetapi dosa itu ditebus oleh Tuhan dan manusia harus bertobat supaya bisa kembali kedisain awal penciptaan yaitu mencipta bersama Tuhan
  2. TUHAN MENCIPTA itu sudah, sedang dan akan , hal inilah yang harus disadari oleh setiap kita, jika kita tidak menyadarinya maka kita "tidak" berperan dalam mencipta bersama TUHAN. Padahal mencipta bersama Tuhan harus terus dilakukan setiap hari bersama keluarga , lingkungan, kelompok, gereja dll.  Termasuk ketika kita menghadapi Covid-19 ini , kita tetap harus berperan mencipta bersama TUHAN.  Dan dengan gereja kita bisa berperan mencipta bersama Tuhan untuk Indonesia, dst , kemana saja Tuhan mengutus. Disain Tuhan yang terdalam dan terluas adalah Penciptaan.
Penciptaan manusia terus berproses, bertumbuh kesegala hal kearah Kristus sampai mencapai tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan KEPENUHAN KRISTUS.

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok, apakah arti hidupmu ? 
HANYA dengan mengikuti arus penciptaan oleh Tuhan hidup kita menjadi berarti.

Kita yang sudah DISELAMATKAN harus ikut arus mencipta bersama Tuhan, baik mencipta diri, teman dan keluarga dengan GEREJA sebagai tubuh Kristus menjadi contohnya.

UNTUK URAIAN SELENGKAPNYA SILAHKAN  DISIMAK DALAM VIDEO SBB :
atau





Sabtu, 13 Januari 2018

Domba dan Kambing


"Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku" Yohanes 10:27

Pada akhir zaman Tuhan Yesus akan memisahkan domba dengan kambing. Kambing adalah gambaran orang-orang fasik yang tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah, sedangkan domba adalah gambaran orang-orang benar (Mat. 25:31-46). 

Lalu bagaimana kita dapat mengetahui bahwa kita adalah domba dan bukannya kambing? Mari kita lihat ciri-ciri domba:

Pertama, domba mendengar suara Gembala.
Banyak buku ditulis dengan judul: Bagaimana mendengarkan suara Tuhan? Rupanya banyak orang kristen yang sulit mendengarkan suara Tuhan. Mungkin Anda juga mengalami hal yang sama. Benarkah bahwa Tuhan itu sungguh-sungguh berbicara kepada kita? Ya, Tuhan berbicara kepada kita setiap hari. Yang menjadi masalah adalah telinga kita yang tuli! Allah adalah Roh. Jadi untuk mendengar suara Tuhan kita harus mempertajam telinga rohani kita. Salah satu cara Alkitabiah untuk peka terhadap suara-Nya adalah dengn "Beribadah dengan Tuhan dan berpuasa" (kis. 13:2). 

Sebab setelah mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, Roh kudus berkata-kata kepada mereka. Jadi dengan beribadah -termasuk memuji Tuhan, menyembah Tuhan, dan merenungkan firman Tuhan- dan berpuasa Anda akan mendengar suara Tuhan.

Kedua, Yesus mengenal domba-domba-Nya.
Tidak dapat disangkal bahwa hanya domba yang taat dan melakukan firman Tuhan akan dikenal Tuhan. Mereka adalah para pelaku firman. Mereka adalah orang-orang yang takut kepada Tuhan dan melakukan kehendak Bapa (Mat. 7:21-23)

Ketiga, domba mengikuti sang Gembala.
Mengikuti kristus bukan sekedar pergi ke gereja saja, tetapi menjadi sama seperti Kristus. Dunia dapat saja menjadi pengikut salah satu artis atau penyanyi dunia. mereka begitu fanatik sampai-sampai semua aksesoris yang dikenakan si artis diikutinya pula. Lebih parah lagi, dandanan rambutnya, model baju, sampai gaya bicara dicontoh pula. Sebenarmnya ini pula yang Tuhan kehendaki bagi gereja-Nya. Apa yang Yesus lakukan kita juga harus mencontohnya. Belas kasihan-Nya kepada orang-orang tertindas, semangat-Nya memberitakan Injil, kemurahannya kepada orang-orang lemah, penghiburan-Nya kepada orang-orang sengsara, dan kerinduannya melihat semua orang diselamatkan, itulah yang wajib kita teladani.

##

Sabtu, 06 Januari 2018

20 Hal Untuk Jadi Pemenang


20 Hal Untuk Jadi Pemenang

Kali ini kita akan memahami dari ayat-ayat Firman Tuhan sedikitnya 20 hal yang bisa membuat langkahmu tetap untuk menjadi seorang pemenang!

1. Mengapa saya berkata "Saya tidak bisa" jika Alkitab mengatakan bahwa saya bisa melakukan segala sesuatu di dalam Dia yang memberi kekuatan kepada saya (Fil 4:13)?

2. Mengapa saya merasa kurang jika saya tahu bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan saya menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus (Fil 4:19)?

3. Mengapa saya harus merasa takut jika Alkitab berkata... bahwa Tuhan tidak memberi saya roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, ketertiban (2 Tim 1:7)?

4. Mengapa saya harus merasa kurang iman jika saya tahu bahwa Allah telah mengaruniakan kepada saya ukuran iman tertentu (Rom 12:3)?

5. Mengapa saya menjadi lemah jika Alkitab berkata bahwa Allah adalah terang dan keselamatan saya dan bahwa saya akan tetap kuat dan akan bertindak (Maz 27:1, Dan 11:32)?

6. Mengapa saya harus membiarkan iblis menang atas hidup saya jika Roh yang ada di dalam saya lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia (1 Yoh 4:4)?

7. Mengapa saya harus pasrah kalah jika Alkitab berkata bahwa Allah dalam Kristus selalu membawa kita di jalan kemenanganNya (2 Kor 2:14)?

8. Mengapa saya harus kekurangan hikmat jika Kristus sendiri telah menjadi hikmat bagi saya dan Allah akan memberi hikmat jika saya minta padaNya (1 Kor 1:30; Yak 1:5)?

9. Mengapa saya harus depresi jika saya dapat mengingat bahwa saya dapat berharap pada Allah yang kasih setiaNya tidak habis-habisNya setiap pagi (Rat 3:21-23)?

10. Mengapa saya harus kuatir, resah, dan rewel jika saya dapat menyerahkan segala kekuatiran saya pada Tuhan yang memelihara saya (1 Pet 5:7)?



11. Mengapa saya harus selalu hidup dalam beban jika saya tahu bahwa di mana ada Roh Allah, ada kemerdekaan, dan Kristus telah memerdekakan kita (2 Kor 3:17; Gal 5:1) ?

12. Mengapa saya harus merasa terhukum jika Alkitab berkata bahwa saya tidak ada lagi di bawah penghukuman sebab saya di dalam Kristus (Rom 8:1) ?

13. Mengapa saya harus merasa sendirian jika Yesus berkata Ia akan selalu menyertai saya, tidak akan membiarkan dan tak akan meninggalkan saya (Mat 28:20; Ibr 13:5)?

14. Mengapa saya harus merasa terkutuk atau merasa saya menjadi korban nasib sial jika Alkitab berkata bahwa Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum taurat sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu (Gal 3:13-14) ?

15. Mengapa saya harus merasa tidak puas dalam hidup ini jika saya,seperti Paulus, bisa belajar untuk menjadi puas dalam segala keadaan (Fil 4:11) ?

16. Mengapa saya harus merasa tidak layak jika Kristus telah dibuat menjadi dosa karena kita, supaya di dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2 Kor 5:21) ?

17. Mengapa saya merasa takut disiksa orang jika saya tahu bahwa jika Allah di pihak saya tidak ada yang akan melawan saya (Rom 8:31) ?

18. Mengapa saya harus bingung jika Allah adalah Raja Damai dan Ia memberi saya pengetahuan melalui RohNya yang diam di dalam kita (1 Kor 14:33;2:12)

19. Mengapa saya harus terus-menerus gagal dan jatuh jika Alkitab berkata bahwa sebagai anak Allah saya lebih daripada orang-orang yang menang dalam segala hal, oleh Dia yang telah mengasihi saya (Rom 8:37)?

20. Mengapa saya harus membiarkan tekanan hidup mengganggu saya jika saya dapat punya keberanian karena tahu Tuhan Yesus telah menang atas dunia dan penderitaan (Yoh 16:33)? " Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah ! " (Mazmur 46:11a)

###

Senin, 01 Januari 2018

Sebuah Renungan Diawal Tahun Baru 2018


Sebuah renungan diawal tahun 2018 ...

"Selalu baru tiap hari, besar kesetiaanMu" (Rat. 3: 22)
Setiap awal tahun, banyak orang percaya mengadakan  komitmen untuk hidup yang baru dengan resolusi yang baru. Resolusi tentunya menyangkut iman, kasih dan pengharapan dan pada umumnya, semua resolusi itu adalah mulia dan baik.

Pada akhir tahun, ada orang percaya yang  menganggap dirinya telah berhasil mempertahankan resolusi yang dilakukan pada awal tahun, namun belum tentu diperkenan oleh Tuhan. Di lain pihak, ada orang percaya yang menganggap dirinya telah gagal untuk menjaga hidup yang konsisten sesuai dengan resolusi itu, tapi orang yang demikian belum tentu sama sekali tidak diperkenankan oleh Tuhan. Keberhasilan seringkali terjadi pada  orang yang merasa dirinya gagal dan mereka terus menerus memperbaiki dirinya sambil berpegang pada pengharapan.
Tuhan Yesus tidak berubah selama- lamanya, karena Dia adalah Allah yang sempurna total. Bagi Dia tidak ada kegagalan. Dialah Allah yang tidak pernah gagal dalam segala hal. Sebab itu, bagi orang percaya yang melakukan kehendak Tuhan tidak perlu takut pada kegagalan, melainkan takut pada diri sendiri yang gagal bersandar pada Dia.

Jika kita pernah gagal pada tahun yang lalu, maka kita jangan cepat putus asa dan tawar hati dalam memasuki tahun yang baru, melainkan dengan iman dan keberanian terus berjuang lagi di dalam Dia.
Resolusi pada awal tahun adalah hal yang baik, tapi jangan berbangga pada pencapaian resolusi. Sebab kita tidak mengukur diri atas jasa diri, melainkan kasih karunia Allah yang tetap pada orang yang lemah dan tidak berdaya.

Resolusi dalam apa pun juga bagi orang percaya tetap membutuhkan kasih karunia Allah untuk menjalani kehidupan tahun yang baru. Dalam Dia, kita hidup dan bergerak.
Ia selalu mensuplai karunia yang baru setiap hari  bagi orang yang mengasihi Dia oleh karena kesetiaanNya yang besar. Ditengah kegelapan hidup, kitab Ratapan berkata demikian: "Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis habisnya rahmatNya, selalu baru tiap pagi, besar kesetiaanMu (Rat. 3: 22-23).

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam kehidupan dan dunia ini pada tahun yang baru. Sebagaimana Tuhan telah menghantarkan kita untuk memasuki tahun yang baru, maka kita juga percaya bahwa Ia akan berjalan didepan dan bersama dengan umatNya yang mengasihi Nya. Ia berjanji tidak akan meninggalkan orang yang benar  dalam kesendirian. Ia juga akan bekerja menurut bijaksanaNya dalam berbagai kondisi kehidupan untuk menyatakan  kebesaran kasih karuniaNya.
Resolusi apa pun yang kita buat pada awal tahun ini, tetaplah bersandar pada kasih karunia Allah. Ketika  kita masih lemah, justru kasih karuniaNya menjadi sempurna.
Apakah ada hal yang baru bagi setiap pergantian tahun? Banyak hal yang masih tetap sama, tapi satu hal yang pasti adalah kasih kesetiaan Tuhan selalu baru setiap hari. Seperti air yang terus mengalir di sungai dan air itu tidak pernah sama, demikian firman kasih karunia Tuhan tidak akan pernah sama setiap hari.

Joshua diminta oleh Tuhan untuk berpegang pada firman Tuhan ke mana saja dia pergi (Jos.1:9). Joshua tidak berurusan dengan kemenangan atas bangsa Kanaan, sebab hal itu adalah urusan Tuhan. Tapi Joshua harus tetap berpegang pada firman.
Jika Tuhan memegang tangan kanan kita, maka tangan kiri kita harus berpegang pada firmanNya. Jika kita diperhatikan oleh Tuhan, maka kita harus memperhatikan firmanNya. Jika kita dipelihara oleh Dia, maka kita harus memelihara firmanNya.
Janganlah takut memasuki tahun yang baru sebab Ia ada disana. Apakah kita telah hidup bersama dengan Dia pada hari ini? Maka kita juga memperoleh keyakinan bahwa hari esok kita boleh berjalan bersama  dengan Dia.

Kiranya Dia dimuliakan dalam segala hal melalui kehidupan kita sepanjang tahun yang baru. Selamat tahun baru 2018 kepada para sahabat kami di dalam Tuhan.

Pdt Jonathan Lo

Jumat, 30 Juni 2017

Mengapa Perkawinan Tidak Bahagia ?


Suatu kisah yg inspiratif :

Dua Orang Baik tapi Mengapa Perkawinan Tidak Bahagia?

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil saya melihatnya begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur untuk ayah karena lambung ayah kurang baik.
Setelah itu, masih harus memasak nasi untuk anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan...
Setiap sore, ibu selalu menyikat panci supaya tidak ada noda sedikitpun.
Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan rumah agar tidak berdebu.

Ibu adalah seorang wanita yang sangat rajin. Namun, di mata ayah, ibu bukan pasangan yang baik. Tidak hanya sekali ayah menyatakan kesepian dalam perkawinan, tapi saya tidak memahaminya...
Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu dan saat libur ayah punya waktu untuk mengantar kami ke sekolah. Ia seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berprestasi dalam pelajaran.

Ayah adalah seorang laki-laki yang baik di mata anak-anak, ia besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami.
Hanya saja, di mata ibu, ia bukan pasangan yang baik. Kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam-diam.
Saya melihat dan mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka. Seharusnya mereka layak mendapat perkawinan yang baik.

Saya bertanya pada diri sendiri, "Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?"

Setelah dewasa, akhirnya saya memasuki perkawinan dan perlahan-lahan saya mengetahui jawaban itu...

Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, rajin bekerja dan mengatur rumah dengan sungguh2 berusaha memelihara perkawinan sendiri.
Anehnya, saya tidak merasa bahagia dan suamiku sepertinya juga tidak bahagia. Saya merenung, mungkin rumah kurang bersih, masakan tidak enak, lalu dengan giat saya membersihkan rumah dan memasak dengan sepenuh hati.

Namun, rasanya, kami berdua tetap tidak bahagia. Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan rumah, suami saya berkata, "temani aku sejenak mendengar alunan musik!"
Dengan mimik tidak senang saya berkata, "Apa tidak melihat masih ada separoh lantai lagi yang belum dipel?"

Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan Ibu. Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkawinan mereka. Ada beberapa kesadaran muncul...

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan teringat akan ayah yang tidak mendapat apa yang dia butuhkan dalam perkawinannya.
Waktu ibu habis untuk membersihkan rumah pada hal yg dibutuhkan ayah adalah menemaninya. Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan. Ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih namun ibu jarang menemani ayah. Ia berusaha mencintai ayah dengan caranya.

KESADARAN MEMBUAT SAYA MEMBUAT KEPUTUSAN YANG SAMA
Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.
Saya bertanya pada suamiku, "Apa yang kau butuhkan?"

"Aku membutuhkanmu untuk menemaniku... Rumah kotor sedikit tidak apa-apa.." ujar suamiku.
Saya kira dia perlu rumah yang bersih, ada yang memasak, dst.
"Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku."
Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut. Kami meneruskan menikmati kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya cara yang diinginkan pasangan kita.

Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja. Begitu juga suamiku, dia menderetkan sebuah daftar kebutuhanku.
Puluhan kebutuhan yang panjang dan jelas. Misal: Waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling memeluk setiap pagi, memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat, dstnya.

Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang sulit. Misal: "dengarkan aku, jangan memberi komentar". Ini adalah kebutuhan suami.

Kalau saya memberinya usul, dia bilang dirinya merasa tampak seperti orang bodoh. Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki.
Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya, kalau tidak saya hanya mendengarkan dengan serius...

Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun jauh lebih bermakna dalam pernikahan kami...

Bertanya pada pasangan kita, "Apa yang kau inginkan?" ternyata dapat menghidupkan pernikahan.

Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah dan ibu tidak bisa bahagia, MEREKA TERLALU BERSIKERAS MENGGUNAKAN CARA SENDIRI DALAM MENCINTAI PASANGANNYA, BUKAN MENCINTAI PASANGANNYA DENGAN CARA YANG DIINGINKAN PASANGANNYA.

Kita mungkin sangat lelah melayani pasangan kita, namun dia tidak menghargai... Akhirnya kita kecewa dan hancur.

Allah, Sang Pencipta telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya, SETIAP ORANG PANTAS DAN LAYAK MEMILIKI SEBUAH PERKAWINAN YANG BAHAGIA, asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan oleh pasangan kita.

KJ 318

Berbahagia tiap rumah tangga,
di mana Kaulah Tamu yang tetap:
dan merasakan tiap sukacita
tanpa Tuhannya tiadalah lengkap;
di mana hati girang menyambutMu
dan memandangMu dengan berseri;
tiap anggota menanti sabdaMu
dan taat akan Firman yang Kaub’ri.

Berbahagia rumah yang sepakat
hidup sehati dalam kasihMu,
serta tekun mencari hingga dapat
damai kekal di dalam sinarMu;
di mana suka-duka ‘kan dibagi;
ikatan kasih semakin teguh;
di luar Tuhan tidak ada lagi
yang dapat memberi berkat penuh.

Salam hangat dari team Nafiri Kasih .. semoga bermanfaat ..

POSTINGAN TERAKHIR

ADAKAH PERANAN TUHAN DALAM KEBERHASILAN SESEORANG ?

  "Adakah Peranan Tuhan dalam Keberhasilan Seseorang?" Sahabat Nafiri Kasih , Ada seorang yang Bernama David tumbuh besar deng...

POPULER DIBACA