Tampilkan postingan dengan label ilustrasi khotbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilustrasi khotbah. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Maret 2022

Renungan Kehidupan Bagi Kita


Renungan Kehidupan Bagi Kita

Ada seorang dermawan yang dari atas gedung menebar uang pecahan:
Rp. 5.000,- Rp. 10.000,- Rp. 20.000,-  Rp. 50.000,- dan Rp. 100.000,-
Di bawah gedung, berkerumun banyak orang yang sibuk. Mereka saling berebut memunguti uang yang berserakan "TANPA ADA YANG PEDULI" sumber uang itu dari SIAPA.

Suatu saat, Sang Dermawan naik lagi ke atas gedung tersebut dan kali ini beralih menebar kerikil-kerikil kecil ke dalam kerumunan orang yang ada di bawah. 
Sontak terjadi keramaian. Ada yang terkena di kepala, bahu, tangan, punggung dan anggota tubuh lainnya. Mereka panik dan marah, menengadah ke atas berusaha "MENCARI TAHU" dari mana sumber dari kerikil-kerikil tersebut dijatuhkan.

Itulah sikap dari kebanyakan manusia, saat mendapat berkat atau hal yang menguntungkan, semua sibuk tanpa peduli siapa yang memberi dan sedikit sekali yang mampu berterima kasih dan mau mengucap syukur atas keberkahan tersebut.

Namun saat masalah datang, maka semua akan spontan mencari sumber masalah dan biang keroknya. Mereka akan serta-merta marah dan menyalahkan orang lain tanpa mau cari solusi lagi.
 
Apakah kita hanya mau menerima yang baik saja, tetapi tidak mau menerima yang buruk ?
Tanpa mau tahu bahwa hidup ini sebenarnya sudah satu paket, baik dan buruk, senang dan susah, semuanya satu kesatuan yang tak mungkin terpisahkan.

Bila suatu ketika kita "kena giliran" menjalani hal-hal buruk dan susah, maka jalanilah dengan tabah dan tetap bersyukur, karena hanya itu kuncinya.

Mau belajar SABAR?
Nanti kita akan ketemu dengan orang-orang yang keras kepala kepada kita.

Mau belajar MENGAMPUNI?
Nanti kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang menyakiti kita.

Mau belajar MEMBERI?
Sebentar lagi kita akan dihadapkan dengan orang-orang yang berkekurangan.

Mau belajar RENDAH HATI?
Tunggu saja, nanti akan ada orang-orang yang merendahkan diri kita.

Kabar buruknya, "HIDUP INI TAK ADA YANG SEMPURNA !"
Kabar baiknya, "KITA TAK PERLU HIDUP SEMPURNA UNTUK BISA MENIKMATINYA”

Apapun yang sedang kita hadapi, itulah PROSES BELAJAR MENJADI LEBIH BIJAKSANA & DEWASA.
JANGAN MARAH & MENGGERUTU, tapi belajarlah dan responilah dengan benar.
HIDUP ADALAH PROSES PEMBELAJARAN dan KEDEWASAAN.

Pembelajaran hanya bisa diperoleh pada situasi yang tidak sesuai harapan kita, bukan saat kita dalam kenyamanan.
Jadilah "murid kehidupan" dengan BELAJAR BERSYUKUR & MENGAMBIL HAL POSITIF dari setiap peristiwa yang kita hadapi.

Berusahalah SABAR dalam kesedihan,
Berusahalah SABAR dalam kekecewaan,
Berusahalah SABAR dalam kesakitan,
Berusahalah SABAR dalam musibah,
Berusahalah SABAR dalam ujian hidup.

SABAR itu susah,
SABAR itu capek,
SABAR itu sakit,
SABAR itu bikin stres,
Akan tetapi, jika kita mampu melewatinya, maka SABAR itu akan menjadi sebuah KEINDAHAN.

Ada kalanya dibutuhkan senyuman untuk menangis,
Ada kalanya dibutuhkan airmata untuk bahagia,
Ada kalanya dibutuhkan canda untuk melepas lelah,
Ada kalanya dibutuhkan penat untuk mengukur arti kedamaian,
Ada kalanya dibutuhkan "musuh" untuk menjadi korektor,
Ada kalanya dibutuhkan "teman" untuk berbagi.
Dengan berbagi, melatih kesabaran, dan menerima kenyataan hidup dengan penuh rasa syukur, kita sesungguhnya berjalan menuju kebahagiaan hidup yang kita dambakan, hidup yang ceria, damai, harmonis dan penuh sukacita. 

Segala sesuatu dapat kutanggung didalam DIA yang memberi kekuatan kepadaku oleh karena itu  bersukacitalah senantiasa didalam Tuhan , Amin ##

Selasa, 31 Agustus 2021

APA YANG DICARI DALAM HIDUP INI ?



 "Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu"

Tema : APA YANG DICARI DALAM HIDUP INI ? 
Nats : Pengkhotbah 1:2;2:21-23; Mazmur 1:1-3; Yeremia 17:7,8

Tujuan:
Belajar mengerti bahwa tujuan hidup bukanlah sekedar ini dan itu tapi melakukan apa yang dikehendaki Allah, yang perlu dicari adalah hal yang terpenting bukan hal duniawi.

Pendahuluan

Beberapa puluh tahun yang lalu, ada beberapa negara yang produksinya yang sangat baik, barang tersebut dapat digunakan sampai puas dan demikian awet, misalnya barang-barang produksi Jerman atau dari RRC. Modelnya memang kurang menarik tapi mutunya luar biasa. Tahan lama dan tahan banting. Beda dengan produksi zaman sekarang, sekali pakai lalu buang, jika yang dibeli bergaransi 1 tahun, maka setelah pakai 1 tahun barang tersebut dijamin akan rusak.

Juga, karena dizaman industri, segala macam barang kebutuhan sehari-hari demikian banyaknya dipasarkan di toko-toko pusat perbelanjaan, dipasar, super market dan warung-warung. Semua barang kebutuhan dapat ditemukan dengan berbegai mode, bentuk dengan warna yang indah. Harga tidak terlalu mahal, namun barang-barang tersebut tidak mungkin dapat dipakai terlalu lama, apalagi akan diwariskan kepada anak-anak dikemudian hari. Jika di simpan, dua bulan kemudian sudah ketinggalan mode, dan sudah dianggap barang ketinggalan zaman. Jadi jangan pikir barang tersebut akan diwariskan atau disimpan sampai 25 tahun kemudian. Habis garansi dijamin barang tersebut sudah dipensiunkan dan tidak bakalan akan dipakai oleh anak cucu lagi.

Barang-barang industri zaman sekarang tidak menunjukan bahwa kita kaya, atau kebahagiaan hidup kita, semua itu hanya menunjukan bahwa kita sedang mengikuti trendnya zaman. Trendnya zaman yang sia-sia, yang membosankan.

Ada yang menganggap dengan adanya kedudukan berarti hidupnya akan bahagia, benarkah demikian? Berapa lama kedudukan akan berpihak pada kita? Bukankah kedudukan itu lebih menggambarkan kita bermain curang? Berapa banyak orang yang dapat mempertahankan kedudukannya tanpa harus main curang ?

Jika kita mendengar pengajaran yang disampaikan oleh Pengkhotbah, maka kita akan mengerti bahwa sebenarnya segala sesuatu diakhiri dengan kesia-siaan

Pengkhotbah 1:2;2:22,23. Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, segala sesuatu adalah sia-sia. Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya? Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram. Inipun sia-sia.

Jika demikian apakah benar orang yang berpendapat bahwa kebahagiaan terletak pada perkara duniawi, seperti memiliki harta benda, kedudukan, kekayaan, prestasi ??

Tuhan Yesus memberikan pengajaran yang indah untuk kita renungkan bersama pada hari ini Markus 8:36,37. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?

Selanjutnya kita akan merenungkan bersama beberapa pokok pengajaran penting:

1. Orang berkata: No money no happy.

Orang Tapanuli ( Batak) berkata ise mengatur negara on, hepeng! Siapa yang mengatur negara ini ? Jawabannya adalah, UANG ! Dengan uang kita dapat mengatur negara. Kalau demikian kita harus cari uang yang banyak. Orang Inggeris berkata Time is Money. Waktu adalah uang, jadi jangan sia-siakan waktu. Kalau orang Tionghua Chien paling penting, Uang adalah segalanya, bagi orang Tionghua dilangit ada dewa kekayaan yang boleh kita ajak kongkalikong. Bagaimana pula dengan orang Jawa ? Ooh, gampang, cari aja Nyi Blorong, sembahlah dia maka kekayaan akan datang dengan limpahnya.

Karena itu banyak orang yang ingin mencari kekayaan nyawapun dia rela gadaikan, bukankah orang yang demikian banyak terdapat disekitar kita?

Ilustrasi:

Saudara yang kekasih, Ada satu keluarga di Jawa Timur, dapat dikatakan keluarga ini sangat kaya, namun dalam keluarga ini diantara beberapa anaknya terdapat satu yang idiot, satu lagi tabrakan mobil hingga hancur. Isteri menjadi gila. Kasihan sekali, jika mendengar cerita keluarga ini, tetapi apa yang mau dikata? Untuk mendapatkan kekayaan tersebut kepala keluarga ini telah menggadaikan isteri dan anak-anaknya pada kuasa kegelapan.

Kekayaan apakah penting ? Penting sekali! Uang juga sangat dan sangat diperlukan sekali dalam kehidupan di zaman modern ini, tapi bukan yang utama dan yang mendatangkan kebahagiaan. Uang hanyalah alat yang membantu kita untuk bertransaksi, jadi bukan tuan, bukan yang mengatur kehidupan kita. Uang hanyalah alat bantu belaka.

Ingatlah apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus di Markus 8:36,37. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?

Apa gunanya dengan banyak uang, harta benda, tetapi tidak dapat dan tidak bisa menggunakannya atau menikmatinya? Apakah mereka yang berlimpah kekayaannya berbahagia? Bukankah kekayaan itu hanyalah sesuatu yang relatif saja? Orang yang menyalahgunakan kemampuan diri, yang memelihara kuasa kegelapan demi kekayaan, orang kaya yang demikian percayalah tidak pernah akan bahagia. Ketika melihat isteri yang gila apakah bahagia? Ketika melihat anak yang idiot apakah bahagia? Ketika mengingat anak mati karena tabrakan apakah akan bahagia?

Saudara, Dalam Alkitab bukankah Tuhan Yesus pernah mengajar Matius 6:19,20. "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.

Kalau kita lalai maka kekayaan dunia akan menjadi alat untuk mengundang pencuri datang mencuri dan merampok. Sekalipun sudah dibuatkan pagar rumah yang tinggi, memelihara anjing yang paling galak, memasang alram dan segala macam pengaman untuk menyelamatkannya, namun apa yang terjadi? Ngengat dan karat, bahkan perampok menghabiskannya. Jika Tuhan mengizinkannya, peristiwa Ayub akan terulang kembali, hanya dengan satu hari satu malam saja, seluruh harta benda Ayub habis dan hilang dirampok

Saudara yang kekasih, dari pengajaran Tuhan Yesus diatas cukup jelas, bahwa kita perlu melipat gandakan harta kekayaan kita, yaitu dengan menginveskannya dalam sorga yaitu dalam pekerjaan Tuhan. Dengan harta kekayaan, kita membangun Kerajaan Allah dalam dunia ini, membantu pekerjaan Tuhan dalam misi, dalam gereja, di sekolah Teologi, panti asuhan dan banyak lagi pekerjaan Tuhan yang lainnya.

Dengan demikian harta kekayaan yang kita inves kan di tempat-tempat tersebut akan membuat kita menerima berkat yang ganda; dalam dunia dan dalam sorga. Tambah memberi untuk pekerjaan Tuhan di dunia, berarti akan bertambah pula hati kita untuk pekerjaan Tuhan dan sorga, artinya kita menginveskan harta kita untuk pekerjaan Tuhan dalam dunia dan secara otomatis di sorga kita juga mendapatkan harta yang kekal. Selanjutnya Tuhan Yesus mengajar, Matius 6:21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Kalau harta kita ada pada pekerjaan Tuhan kita akan mengusahakan pekerjaan Tuhan itu bertumbuh dan berkembang, ingatlah, bahwa apa yang di inves kan dalam pekerjaan Tuhan ini memiliki nilai kekal. Jika harta kita berada di sorga, maka kita juga menaruh hati yang rindu ke sorga. Karena itu janganlah menyimpan harta dalam dunia ini tetapi menyimpannya dalam pekerjaan Tuhan dan di sorga. Jadi jelas kita perlu membuat harta kekayaan yang ada pada kita itu berlipat ganda, berganda baik dalam dunia dan dalam sorga yang akan datang. Itulah arti kebahagiaan yang bernilai kekal.

Dapat mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan merupakan kebahagiaan tersendiri sebab tidak selamanya Tuhan mempercayakan dan memberi kesempatan pada kita untuk mengambil bagian dalam pekerjaanNya. Dapat dikatakan tidak selalu ada kesempatan untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Misalnya, orang miskin yang sedang tidak punya uang untuk berobat, atau anaknya yang tidak punya uang untuk membayar uang sekolah, saat kita tahu, jika tidak segera menolong, mungkin dua tiga hari kemudian ketika kita sadar, orang miskin tersebut sudah meninggal dunia. Mungkin saat kita menyadari bahwa kita perlu menolong anak yang tidak mampu bayar uang sekolah, saat itu anak tersebut sudah di usir dari sekolahnya. Bukankah sering kita menemukan bahwa adakalanya ketika mau menolong orang yang tidak mampu, namun kita sudah tidak punya kesempatan lagi.

Saudara, Jangan berkata bagaimana saya dapat menolong orang, jika saya sendiri tidak punya ? Menolong orang tidak mesti harus dengan kekayaan, dapat menolong dengan tenaga, kepintaran, kemampuan dllnya. Bukankah kita sering mendengar, menolong orang jangan berikan ikan padanya, tetapi berikanlah kail padanya!

Kita membaca Kis Ras 20:35 Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima."

Janganlah kita menjadi orang yang have money but no happy.

2. Yang harus dicari Orang dalam hidup ini

Mazmur 1:1,2,3. Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Yeremia 17:7,8. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Saudara sebagai orang Kristen mungkin kita sering membaca dan mendengar firman tersebut dalam khotbah hari Mianggu, dan sangat menyadarinya bahwa kedua bagian Alkitab tersebut adalah kebenaran, dan pasti adalah kebenaran, tetapi kebenaran yang hanya tertulis dalam Alkitab saja, bukan dalam hati dan kehidupan nyata.

Pemazmur memberikan pengajaran pada kita, yaitu jangan mengambil bagian dalam kehidupan orang fasik, dalam hal berjalan dengan mereka, atau berdiri dan duduk dalam perkumpulan orang fasik Sebab orang yang disebut fasik adalah orang yang tahu ada TUHAN Allah, tetapi tidak mempedulikan perintah-Nya, tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan. Orang fasik dapat disamakan juga dengan orang atheis praktis, beda dengan orang atheis teoritis yang berpendapat bahwa Tuhan tidak ada berdasarkan teori-teori tertentu, misalnya komunisme. Sedangkan atheis praktis secara teoritis tidak menyangkal adanya Tuhan, tetapi secara praktis tidak mengakui dan menyembahNya. Orang atheis praktis tetap mengakui Tuhan, tetapi hidupnya seolah-olah Tuhan tidak ada. Siapa yang menganut faham atheis praktis ini ? Ada kemungkinan dianut oleh orang-orang yang beragama, mungkin juga yang sedang duduk bersama kita dalam gereja.

Saudara yang kekasih, ada sebagian orang, membutuhkan TUHAN karena ada suatu kebutuhan, Tuhan hanyalah kebutuhan tambahan atau penolong tambahan. Yaitu, jika sudah tidak berdaya, sudah tidak sanggup lagi menolong diri sendiri, misalnya, sakit yang tidak tertolong lagi oleh dokter, utang yang sudah bertumpuk tidak sanggup lagi membayar, barulah Tuhan dicari. Jadi, Saudara, janganlah menjadi orang yang hanya menganggap TUHAN itu sebagai bagian dari kebutuhan saja. Terlebih lagi sebagai ban serap saja.

Sebagai orang yang percaya pada Tuhan Yesus janganlah kita seperti orang fasik. Pemazmur berkata bahwa orang fasik seperti sekam yang ditiupkan angin, dan TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan. Mazmur 1:4,6

Tuhan Yesus memberikan pengajaran pada kita dalam Matius 6:33, Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Mencari kerajaan Allah dan kebenaranNya, adalah seperti yang dikatakan Pemazmur, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Inilah orang yang berbahagia, yaitu orang yang sanggup bergaul, hidup dekat dengan TUHAN, Pemazmur mengumpamakannya seperti pohon, Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Nabi Yeremia berkata: Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.Yer 17:7,8

Penutup:

Bukankah indah sekali janji firman Tuhan? Pohon ditepi aliran air, daunnya selalu hijau, tidak kuatir dalam tahun kering atau panas terik, dan ini yang terpenting, tidak berhenti menghasilkan buah. Bukankah dengan terlebih dahulu mencari Kerajaan Allah dan KebenaranNya kita memperoleh segala yang dibutuhkan ?

Apa yang sedang kita cari dalam hidup ini? Yang bernilai kekal, atau yang bernilai fana, sesuatu yang sementara? Apa yang sedang kita cari ? Mencarinya dengan bersandar pada TUHAN atau mencarinya dengan segala kemampuan diri? Tuhan Yesus berkata dalam Matius 11:28, Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Jika kita datang kepada TUHAN maka Ia akan memberikan kebahagiaan, kelegaan pada kita, maukah kita datang padaNya? Dia sedang mengundang kita, Dia sedang menunggu kita, apalagi yang sedang engkau cari? AMIN.

Rabu, 09 Desember 2020

PANGGILAN MELAYANI TUHAN BUKAN OPSIONAL


PANGGILAN MELAYANI TUHAN BUKAN OPSIONAL

Matius 25:14-30

Melayani Tuhan itu bukan opsional. Banyak orang memberi berbagai macam alasan – terlalu tua, terlalu muda, terlalu sibuk, terlalu lelah, terlalu sakit – dan seterusnya. Padahal semua alasan itu dapat dipatahkan oleh kebenaran ayat Alkitab yang berkata bahwa orang percaya “diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Tuhan sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:10).

Melayani tidak tergantung pada kesehatan, usia atau pengalaman. Saya kenal beberapa orang yang harus terbaring di tempat tidur yang mempersembahkan hidupnya sebagai pendoa syafaat. Dan saya sudah bertemu dengan orang-orang kudus yang tidak pernah belajar di seminari namun selalu memuridkan orang-orang percaya baru. Yang membedakan orang-orang ini dari orang-orang yang membuat banyak alasan adalah sikap. Jika kita memandang diri kita sebagai pelayan, kita akan berpusat pada Tuhan dan bergantung pada Roh Kudus. Namun jika kita sibuk mencemaskan tentang bagaimana, kapan dan berapa banyak pengorbanan yang harus kita lakukan untuk Tuhan, kita berpusat pada diri sendiri dan, terus terang, tidak banyak berguna bagi Tuhan.

Suatu hari kelak kita akan berdiri di hadapan Tuhan, dan Dia akan meminta pertanggung jawaban kita tentang bagaimana kita sudah menggunakan segala talenta dan karunia rohani yang Dia berikan pada kita. Apa yang dapat kita katakan pada-Nya untuk membenarkan penyia-nyiaan kesempatan yang Dia berikan pada kita dalam menggunakan karunia-karunia itu? Tidak ada alasan yang dapat diterima. Berserah penuh pada kehendak Tuhan adalah kunci untuk berkenan kepada-Nya.

Tuhan memberi kita talenta dan kemampuan dengan tujuan, dan Dia akan memperlengkapi kita dalam pelayanan yang lebih besar lagi bagi kerajaan-Nya. Jika kita melayani Dia dengan segenap hati, kita dapat berharap mendengar Dia berkata, "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; ... Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu" (Matius 25:21). ##

Rabu, 07 Oktober 2020

MENGATASI MARAH


Mengatasi MARAH

Kolose 3:8-17

Orang Kristen dipanggil untuk membuang segala "kemarahan, kegeraman, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor" (Kolose 3:8). Perintah ini jelas, tetapi proses mencapai dan mempertahankan tujuan ini bisa jadi membingungkan dan membuat kewalahan.

Langkah pertama adalah mengenali adanya kemarahan dalam hati kita. Langkah ini mungkin tidak diperlukan bagi orang-orang yang ekspresif, tetapi bagi orang-orang yang suka memendam kemarahan diperlukan waktu bersama Tuhan untuk merenungkan dan menyelidiki jiwanya. Kemarahan yang sudah membara dan menguasai hati dapat menimbulkan kehancuran besar; diperlukan pedang Firman Tuhan yang tajam untuk menyingkapkan kemarahan yang membara dalam dada (Ibrani 4:12).

Langkah selanjutnya adalah mengakui kemarahan yang tidak benar itu sebagai dosa dan mulai mengatasinya dengan segera. Karena kemarahan seringkali merupakan respons terhadap luka, kita harus berhati-hati agar tidak memaafkan atau mempertahankannya atas nama keadilan. Jadi, sekalipun orang lain yang berbuat salah pada Anda, perlu disadari bahwa menyimpan kemarahan sebagai respons juga dosa. Alkitab mengajarkan kita untuk mengatasi kejahatan dengan kebaikan, bukan membalas kejahatan dengan kejahatan (Roma 12:17, 21).

Sebagian orang ingin terus melekat pada perasaan-perasaan gusar, padahal memelihara sikap geram tidak akan tertahankan; kemarahan harus disingkirkan. Jika kita mempertahankan "hak" kita untuk menyimpan dendam, kita tak bisa berharap dapat hidup sebagai manusia baru yang Kristus ciptakan untuk kita.

Tempat kita mendapat kekuatan adalah di dalam manusia baru yang seperti Kristus itu. Dan kita bertanggung jawab untuk mengenakan manusia baru itu. Tuhan mengundang kita untuk bekerja sama dengan-Nya dalam proses transformasi itu. Melalui setiap langkah ketaatan kita, damai sejahtera Kristus akan bertambah dan kemarahan akan berkurang. #

Senin, 05 Oktober 2020

DOA PADA SAAT TAK BERDAYA


DOA PADA SAAT TAK BERDAYA

Nehemia 2:1-10

Hati Nehemia sangat susah ketika ia mendengar keadaan yang sangat menyedihkan dari orang-orang Yahudi yang baru saja kembali ke Yerusalem dari pembuangan (Nehemia 1:3-4). Begitu Tuhan mendapatkan perhatian Nehemia, Dia dapat menunjukkan apa yang Dia mau Nehemia lakukan.

Alkitab tidak menyebutkan reaksi Nehemia sebagai orang yang menyadari bahwa dirinya harus menjadi bagian dari solusi, tetapi kita dapat membayangkan rasa tak berdaya yang dialami Nehemia. Bagaimana ia bisa menolong? Ia tidak berada di dekat Yerusalem, dan sebagai pelayan minuman raja, ia tidak bisa langsung berkemas-kemas dan pergi begitu saja.

Namun, setiap kali Tuhan menaruh beban di hati kita, Dia akan membuka jalan bagi kita untuk melakukan kehendak-Nya. Dalam hal ini, Tuhan memakai ekspresi sedih Nehemia dan doanya yang sungguh-sungguh untuk menyiapkan raja yang tidak mengenal Tuhan itu mengutusnya pergi memenuhi tugas itu.

Bagaimana respons Anda ketika Anda merasa Tuhan memanggil Anda untuk melakukan tugas yang tampaknya di luar kemampuan Anda? Apakah Anda menyebutkan semua alasan bahwa Anda tidak mungkin dapat melakukannya? Tuhan sudah mengetahui segala sesuatu tentang diri Anda dan situasi itu. Dia tidak akan meminta izin Anda untuk melanjutkan, Dia memanggil Anda untuk bergerak maju dengan percaya kepada-Nya. Anda dapat menolak, tetapi Anda akan kehilangan berkat-berkat dari kehidupan yang dijalani dalam ketaatan kepada-Nya.

Tuhan akan memperlengkapi Anda untuk melakukan apa pun yang Dia mau Anda lakukan. Dan karena Roh Kudus tinggal di dalam diri setiap orang percaya, kita memiliki semua yang kita perlukan untuk memenuhi tugas ilahi kita. Alih-alih membiarkan ketidakberdayaan menghalangi Anda untuk taat, buatlah ketidakberdayaan itu justru mendorong Anda untuk berdoa agar Anda dapat bersandar pada kuasa dan hikmat Tuhan. #

POSTINGAN TERAKHIR

ADAKAH PERANAN TUHAN DALAM KEBERHASILAN SESEORANG ?

  "Adakah Peranan Tuhan dalam Keberhasilan Seseorang?" Sahabat Nafiri Kasih , Ada seorang yang Bernama David tumbuh besar deng...

POPULER DIBACA