Sabtu, 27 September 2025

APA YANG HARUS ANDA LAKUKAN SAAT MERASA GAGAL ?

 


"Apa yang Harus Anda Lakukan Saat Merasa Gagal ?"

"Apakah Anda pernah merasa gagal? Mungkin dalam pekerjaan, hubungan pertemanan, hubungan rumah tangga, atau bahkan dalam iman seperti jatuh kedalam dosa? Gagal seringkali membuat kita merasa tak berharga dan putus asa. Tapi tahukah kamu, bahwa banyak tokoh dalam Alkitab juga mengalami kegagalan, namun Tuhan tetap memakai mereka?"

Mari kita lihat contoh dari Petrus. Suatu malam, ketika Yesus ditangkap, Petrus, murid yang sangat dekat dengan Yesus, melakukan kesalahan besar. Dia menyangkal Yesus tiga kali, meskipun sebelumnya dia bersumpah untuk setia. Bayangkan perasaan Petrus saat dia menyadari kesalahannya. Dia merasa gagal, sangat malu, dan terpuruk. Petrus menangis dengan pedih karena dia tahu dia telah mengecewakan Yesus.

Tapi apa yang terjadi setelahnya? Setelah kebangkitan Yesus, Petrus tidak ditinggalkan. Yesus justru menemui Petrus, memulihkannya, dan memberikan dia tanggung jawab besar, "Gembalakanlah domba-domba-Ku." Yesus tidak fokus pada kegagalan Petrus, tapi pada pemulihan dan panggilan yang lebih besar. Dan disini Petrus merespon dengan benar ajakan Yesus tsb.

Dari cerita Petrus, kita belajar satu hal penting: Tuhan tidak mengabaikanmu hanya karena anda merasa gagal. Sebaliknya, Dia menunggu untuk memulihkan anda dan memberi kesempatan baru. Kegagalan adalah bagian dari perjalanan iman kita, dan Tuhan sering memakai kegagalan itu untuk membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat dan bijaksana.

Dalam Amsal 24:16 dikatakan, "Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali." Jadi, apa yang harus kamu lakukan saat merasa gagal? Bangkit kembali! Cari Tuhan dalam doamu, minta Dia untuk memulihkan hatimu, dan percaya bahwa Dia masih memiliki rencana besar untuk hidupmu.

Ingat, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Seperti Petrus, kamu bisa bangkit kembali. Tuhan tetap memegang kendali, dan setiap kegagalan adalah kesempatan untuk belajar dan bertumbuh dalam iman. Jadi, jangan menyerah! Sebab Tuhan tidak pernah meninggalkanmu.

"Apa yang ingin anda lakukan hari ini untuk bangkit dari kegagalan?"

Salam hangat dari team Nafiri Kasih.

 

 


Jumat, 26 September 2025

5 ALASAN MENGAPA BERIMAN KEPADA YESUS PASTI MASUK SURGA


 5 Alasan Mengapa Beriman Kepada Yesus Pasti Masuk Surga

Shalom bapak ibu saudara saudari

Ada  seorang pria bernama Andreas yang sedang bergumul dengan pertanyaan besar dalam hidupnya: "Apakah aku benar-benar akan masuk surga?" Dia sering pergi ke gereja, tetapi belakangan ini pertanyaan itu terus mengganggu pikirannya. Suatu hari, dia memutuskan untuk bertemu dengan seorang Pendeta yang sangat dihormati, yang bernama Pendeta Jonathan.

Saat Andreas duduk di kantor sederhana Pdt Jonathan, ia mengungkapkan kegelisahannya. “Saya percaya dan beriman kepada Yesus, tapi bagaimana saya tahu pasti bahwa saya akan masuk surga?”

Pdt Jonathan tersenyum lembut, lalu berkata, “Andreas, ada lima alasan kuat yang membuatmu bisa yakin akan hal itu. Mari kita bahas bersama-sama.”

Alasan pertama, Pdt Jonathan memulai, “Keselamatan adalah anugerah, bukan hasil usahamu sendiri. Efesus 2:8-9 mengajarkan bahwa kita diselamatkan oleh kasih karunia melalui iman kepada Yesus. Jadi, tidak ada perbuatan manusia yang bisa membuat kita layak. Ketika kamu beriman kepada Kristus, kamu sudah menerima anugerah ini.”

Andreas mengangguk, merasa sedikit lebih tenang, tapi masih ingin tahu lebih banyak.

Pdt Jonathan melanjutkan. “Yang kedua, pengorbanan Kristus di kayu salib telah menebus dosa-dosa kita. Ibrani 9:28 mengatakan bahwa Yesus menanggung dosa banyak orang satu kali untuk selama-lamanya. Dengan beriman kepada-Nya, dosa-dosamu sudah diampuni, dan kamu dianggap benar di mata Allah.”

“Jadi, bukan tentang seberapa baik aku, tetapi seberapa besar kasih Yesus?” tanya Andreas.

“Benar sekali,” jawab Pdt Jonathan. “Itulah yang membawa kita ke alasan ketiga. Yesus menjanjikan hidup yang kekal kepada mereka yang beriman kepada-Nya. Yohanes 3:16 mengatakan bahwa Allah mengasihi dunia ini dan memberikan Anak-Nya supaya siapa pun yang percaya kepada-Nya tidak binasa, tetapi memperoleh hidup kekal. Ini adalah janji Yesus sendiri—dan janji Tuhan tidak pernah gagal.”

Mata Andreas mulai berbinar, seolah mulai mengerti.

“Lalu ada alasan keempat,” lanjut Pdt Jonathan. “Ketika kamu beriman, Roh Kudus berdiam di dalam kamu. Efesus 1:13-14 mengatakan bahwa Roh Kudus adalah jaminan keselamatanmu, meterai dari Allah sendiri. Kehadiran Roh Kudus dalam hidupmu adalah tanda bahwa Allah mempersiapkanmu untuk surga.”

Andreas tersenyum sekarang. “Roh Kudus seperti tanda bahwa aku sudah terdaftar di surga, ya?”

“Betul,” kata Pdt Jonathan tersenyum sambil mengangguk. “Dan akhirnya, alasan kelima: kebangkitan Yesus Kristus. Dalam Yohanes 11:25-26, Yesus berkata bahwa Dia adalah kebangkitan dan hidup. Karena Yesus telah mengalahkan maut, kita yang beriman kepada-Nya juga akan hidup bersama-Nya. Kematian bukan akhir, tapi pintu menuju hidup kekal bersama Allah.”

Akhirnya Andreas merasakan damai di hatinya. Semua kekhawatirannya perlahan menghilang.

Pdt. Jonathan menutup percakapan mereka dengan berkata, “Andreas, ketika kamu beriman kepada Yesus, kamu bisa yakin sepenuhnya bahwa surga sudah menjadi tujuan akhir hidupmu. Bukan karena apa yang kamu lakukan, tetapi karena apa yang Yesus sudah lakukan untukmu. Itu adalah janji Allah yang tidak pernah ingkar.”

Dengan hati yang penuh syukur, Andreas pulang malam itu dengan keyakinan baru. Ia tidak lagi merasa gelisah, karena ia tahu bahwa beriman dengan sungguh kepada Kristus sudah cukup untuk memastikan tempatnya di surga.

Salam hangat dari Nafiri Kasih, Tuhan Yesus memberkati.

 

Kamis, 25 September 2025

APAKAH GEREJA MASIH EXIST ?



 



APAKAH GEREJA MASIH EXIST ? “Hidup dalam Misi, Bertumbuh dalam Pemuridan, Nyata dalam Pelayanan” ?

Setiap bulan September, gereja kami GKI Gading Serpong memperingati Bulan Misi. Perayaan ini tentu bukanlah sekadar tradisi tahunan atau rangkaian kegiatan liturgis belaka, melainkan sebuah pengingat bahwa gereja dipanggil untuk hidup dalam misi setiap hari. Bermisi bukan hanya dilakukan dalam satu bulan tertentu, melainkan menjadi napas kehidupan gereja sepanjang tahun. Bulan September hanyalah sebagai pengingat agar kita kembali memeriksa diri: apakah sasaran dan strategi pelayanan kita sudah sejalan dengan yang Yesus kehendaki?

Yesus sendiri telah menegaskan dalam Matius 28:19:

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku...”

Amanat Agung yang diberikan kepada murid-murid sebelum kenaikan-Nya kesurga sudah seharusnya menjadi catatan penting bagi panggilan gereja. Yesus tidak hanya memerintahkan untuk pergi dan mengabarkan Injil, tetapi juga menekankan adanya proses pemuridan, yaitu menjadikan semua suku bangsa murid-Nya. Pemuridan merupakan suatu cara yang didisain dengan sengaja untuk membawa orang hidup dalam Yesus, bertumbuh dalam iman, dan pada gilirannya akan mengabarkan Injil kepada orang lain. Inilah siklus kehidupan gereja yang sehat, misi melahirkan murid, murid bertumbuh, dan murid pun bermisi, begitu seterusnya.

Sementara itu, dalam Kisah Para Rasul 1:8, Yesus menambahkan dimensi penting lainnya:

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Di sini kita melihat bahwa hidup dalam misi bukanlah pekerjaan manusia semata. Gereja tidak dipanggil untuk mengandalkan kekuatan manusia atau sumber dayanya sendiri, melainkan mengandalkan kuasa Roh Kudus. Tanpa Roh Kudus, bisa jadi bermisi hanya menjadi aktivitas gersang, dan ini mengingatkan kita pada jemaat di Sardis yang ditegur Tuhan seperti yang tertulis dalam Wahyu 3:1 “engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati !”.

Tetapi dengan Roh Kudus, bermisi menjadi kesaksian hidup yang menghadirkan kuasa Yesus di tengah dunia.

Misi dan Pemuridan: Dua Hal yang Menyatu

Sering kali orang membandingkan mana yang lebih penting: misi atau pemuridan. Tetapi sesungguhnya keduanya tidak dapat dipisahkan. Misi tanpa pemuridan akan melahirkan orang-orang yang tidak bertumbuh dalam iman. Pemuridan tanpa misi akan membuat gereja nyaman dalam lingkarannya sendiri tanpa peduli dengan penginjilan. Jadi jika salah satunya diabaikan maka amanat agung belum menjadi dasar panggilannya.

Misi adalah gerak keluar untuk berjumpa dengan dunia, bersaksi dan memberitakan Injil. Pemuridan adalah gerak ke dalam untuk menumbuhkan iman. Kedua arah ini harus berjalan bersama agar gereja sungguh hidup dalam panggilan-Nya.

Murid Sejati pasti menghadirkan Kasih dalam Perbuatan

Namun, misi dan pemuridan bukan hanya soal kata-kata atau pengajaran. Yesus sendiri menegaskan dalam Matius 25:40:

“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Ayat ini mengingatkan kita bahwa misi dan pemuridan harus diwujudkan dalam tindakan kasih yang nyata. Ketika kita berbelas kasihan kepada yang lapar, yang haus, yang sakit, atau yang terabaikan, sesungguhnya kita sedang melayani Yesus sendiri.

Dengan kata lain, pengajaran tentang kasih harus berjalan bersama dengan praktek kasih. Gereja tidak hanya dipanggil untuk mengajarkan firman, tetapi juga menghadirkan kasih Allah dalam tindakan yang nyata kepada yang membutuhkan dan tersisih sehingga banyak orang mengalami kasih Yesus yang pada akhirnya bisa berlanjut sebagai  jembatan untuk pemuridan.

Ilustrasi Sederhana

Bayangkan seorang petani yang menanam padi. Ia tidak hanya menabur benih lalu pergi begitu saja. Ia juga harus merawat, menyiram, membersihkan gulma, bahkan melindungi dari hama. Tanpa perawatan itu, benih yang sudah ditabur mungkin tumbuh, tetapi tidak menghasilkan buah yang maksimal.

Begitu juga dengan misi dan pemuridan. Misi adalah menabur benih dengan tindakan kasih yang nyata (Mat. 25:40) dan pemberitaan Injil (Mat. 28:19). Pemuridan adalah merawat benih yang tumbuh itu agar tumbuh kuat dan berbuah lebat (Mat.28:19). Jika gereja hanya menabur tetapi tidak merawat, maka hasilnya tidak akan maksimal. Sebaliknya, jika hanya merawat tetapi tidak menabur, maka tidak ada ladang baru yang akan menghasilkan panen baru.

Pertanyaan untuk direnungkan :

Pada bulan Misi di bulan September 2025 ini mari kita bersama merenung :

  • Apakah pelayanan yang kita lakukan selama ini sudah berdasarkan ungkapan syukur dan kerinduan kita untuk terus bertumbuh menjadi murid Yesus ?
  • Apakah kita sudah bergerak bukan hanya ke dalam, tetapi juga keluar, menjadi saksi Yesus bagi dunia?
  • Apakah tindakan kasih kita nyata, sehingga orang lain melihat Yesus dalam diri kita?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting agar kita tidak terjebak hanya pada aktivitas tanpa arah, atau pembinaan tanpa tujuan yang jelas (random). Misi dan pemuridan adalah panggilan utama yang tidak boleh diabaikan.

Untuk itu, gereja perlu memiliki strategi yang jelas dan disengaja, salah satunya adalah menanamkan kesadaran pentingnya bermisi dan menjadi murid Yesus yang terus bertumbuh, pada setiap anggota jemaat dan mendorongnya untuk terus menyaksikan kasih-Nya dalam segala hal dengan terus mengandalkan Roh Kudus dalam doa dan ketaatan pada firman Tuhan.

Penutup

Bulan Misi bukanlah akhir, melainkan awal pengingat kembali akan panggilan gereja untuk hidup dalam misi, bertumbuh dalam pemuridan dan nyata dalam pelayanan.

Matius 28:19 menegaskan sasaran kita, Kisah Para Rasul 1:8 memberi kita kuasa, dan Matius 25:40 mengajak kita untuk membuktikannya.

Amin.

Soli Deo Gloria,

Salam hangat untuk sahabat Nafiri Kasih dimanapun Anda berada ...

  





Rabu, 24 Agustus 2022

Hidup Harus Bersyukur

Hidup Harus Bersyukur

1 Tesalonika 5 : 18

"Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allaah di dalam Kristus Yesus bagi kamu."

  • Aku melihat hidup orang lain begitu nikmat, ternyata ia mampu menutupi kekurangannya tanpa berkeluh kesah.
  • Aku melihat hidup teman-temanku sepertinya tak ada duka dan kepedihan, ternyata mereka senantiasa bersyukur.
  • Aku melihat hidup saudaraku tenang tanpa ujian, ternyata ia begitu menikmati hidup yang dijalaninya.
  • Aku melihat hidup sahabatku begitu sempurna, ternyata mereka berbahagia "menjadi apa adanya"..
  • Aku melihat hidup tetanggaku beruntung, ternyata ia selalu tunduk pada Allah untuk bergantung.
  •  Maka aku merasa tidak perlu lagi iri hati dengan rejeki orang lain. Mungkin aku tak tahu dimana rejekiku,  tapi rejekiku tahu dimana diriku.
  • Dari lautan biru, bumi dan gunung, Allah telah memerintahkan berkatNya menuju kepadaku. Allah yang Maha pengasih menjamin rejekiku, sejak 9 bulan 10 hari aku dalam kandungan ibuku.
  • Amatlah keliru bila berkeyakinan rejeki dimaknai dari hasil bekerja, karena bekerja adalah ibadah, sedang rejeki itu urusan-Nya.
  • Melalaikan kebenaran demi menghawatirkan apa yang dijamin-Nya, adalah kekeliruan.
  • Manusia membanting tulang demi uang, yang mungkin esok akan ditinggal mati.
  • Mereka lupa bahwa hakekat rejeki bukan apa yang tertulis dalam angka, tapi apa yang telah dinikmatinya..
  • Rejeki tak selalu terletak pada pekerjaan kita, sang Pencipta menaruh berkat sesuai kehendak-Nya.
  • Ikhtiar itu perbuatan, Rejeki itu bersumber dariNya.
  • Dan yang tidak boleh dilupakan, tiap rejeki akan ditanya kelak. "Darimana dan digunakan untuk apa" Karena rejeki hanyalah "Hak Pakai", bukan "Hak Milik".

Tetap semangat , jadilah pribadi yang senantiasa bersyukur dan berguna bagi sesama.

Senin, 28 Maret 2022

Renungan Kehidupan Bagi Kita


Renungan Kehidupan Bagi Kita

Ada seorang dermawan yang dari atas gedung menebar uang pecahan:
Rp. 5.000,- Rp. 10.000,- Rp. 20.000,-  Rp. 50.000,- dan Rp. 100.000,-
Di bawah gedung, berkerumun banyak orang yang sibuk. Mereka saling berebut memunguti uang yang berserakan "TANPA ADA YANG PEDULI" sumber uang itu dari SIAPA.

Suatu saat, Sang Dermawan naik lagi ke atas gedung tersebut dan kali ini beralih menebar kerikil-kerikil kecil ke dalam kerumunan orang yang ada di bawah. 
Sontak terjadi keramaian. Ada yang terkena di kepala, bahu, tangan, punggung dan anggota tubuh lainnya. Mereka panik dan marah, menengadah ke atas berusaha "MENCARI TAHU" dari mana sumber dari kerikil-kerikil tersebut dijatuhkan.

Itulah sikap dari kebanyakan manusia, saat mendapat berkat atau hal yang menguntungkan, semua sibuk tanpa peduli siapa yang memberi dan sedikit sekali yang mampu berterima kasih dan mau mengucap syukur atas keberkahan tersebut.

Namun saat masalah datang, maka semua akan spontan mencari sumber masalah dan biang keroknya. Mereka akan serta-merta marah dan menyalahkan orang lain tanpa mau cari solusi lagi.
 
Apakah kita hanya mau menerima yang baik saja, tetapi tidak mau menerima yang buruk ?
Tanpa mau tahu bahwa hidup ini sebenarnya sudah satu paket, baik dan buruk, senang dan susah, semuanya satu kesatuan yang tak mungkin terpisahkan.

Bila suatu ketika kita "kena giliran" menjalani hal-hal buruk dan susah, maka jalanilah dengan tabah dan tetap bersyukur, karena hanya itu kuncinya.

Mau belajar SABAR?
Nanti kita akan ketemu dengan orang-orang yang keras kepala kepada kita.

Mau belajar MENGAMPUNI?
Nanti kita akan dipertemukan dengan orang-orang yang menyakiti kita.

Mau belajar MEMBERI?
Sebentar lagi kita akan dihadapkan dengan orang-orang yang berkekurangan.

Mau belajar RENDAH HATI?
Tunggu saja, nanti akan ada orang-orang yang merendahkan diri kita.

Kabar buruknya, "HIDUP INI TAK ADA YANG SEMPURNA !"
Kabar baiknya, "KITA TAK PERLU HIDUP SEMPURNA UNTUK BISA MENIKMATINYA”

Apapun yang sedang kita hadapi, itulah PROSES BELAJAR MENJADI LEBIH BIJAKSANA & DEWASA.
JANGAN MARAH & MENGGERUTU, tapi belajarlah dan responilah dengan benar.
HIDUP ADALAH PROSES PEMBELAJARAN dan KEDEWASAAN.

Pembelajaran hanya bisa diperoleh pada situasi yang tidak sesuai harapan kita, bukan saat kita dalam kenyamanan.
Jadilah "murid kehidupan" dengan BELAJAR BERSYUKUR & MENGAMBIL HAL POSITIF dari setiap peristiwa yang kita hadapi.

Berusahalah SABAR dalam kesedihan,
Berusahalah SABAR dalam kekecewaan,
Berusahalah SABAR dalam kesakitan,
Berusahalah SABAR dalam musibah,
Berusahalah SABAR dalam ujian hidup.

SABAR itu susah,
SABAR itu capek,
SABAR itu sakit,
SABAR itu bikin stres,
Akan tetapi, jika kita mampu melewatinya, maka SABAR itu akan menjadi sebuah KEINDAHAN.

Ada kalanya dibutuhkan senyuman untuk menangis,
Ada kalanya dibutuhkan airmata untuk bahagia,
Ada kalanya dibutuhkan canda untuk melepas lelah,
Ada kalanya dibutuhkan penat untuk mengukur arti kedamaian,
Ada kalanya dibutuhkan "musuh" untuk menjadi korektor,
Ada kalanya dibutuhkan "teman" untuk berbagi.
Dengan berbagi, melatih kesabaran, dan menerima kenyataan hidup dengan penuh rasa syukur, kita sesungguhnya berjalan menuju kebahagiaan hidup yang kita dambakan, hidup yang ceria, damai, harmonis dan penuh sukacita. 

Segala sesuatu dapat kutanggung didalam DIA yang memberi kekuatan kepadaku oleh karena itu  bersukacitalah senantiasa didalam Tuhan , Amin ##

Rabu, 01 September 2021

SEJARAH GKI KUTOARJO


Sejarah Jemaat Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwe di Kutoarjo , Cikal Bakal GKI
 Kutoarjo

Sumber : gkiswjateng.org

Pnt.Detta mulai dng mengatakan: “Kutoarjo adl salah satu kecamatan yg ada di kabupaten Purworejo. Kecamatan yg juga menjadi sentra perdagangan di Kabupaten ini ternyata punya arti di balik namanya, Kuto artinya kota, dan Arjo berarti makmur atau sejahtera. Jadi Kutoarjo adl “Kota yg makmur sejahtera” begitu lah artinya. Kedengarannya memang mantab sekali.” (Namanya juga hidup dlm pengharapan)

Awalnya, GKI Kutoarjo merupakan buah karya Zending Gereformeerd Kerhen Uhechl yg diutus dari negeri Belanda.  Pertama kali kebaktian diadakan pd thn 1906, dengan menggunakan bahasa Jawa di rumah Sdr. Oei Boen Gie di Jl. Pecinan 22, Kutoarjo, atas pelayanan guru injil Samuel dan Soetodimedjo. Warga Tionghoa banyak yg tertarik, shg  mulai thn 1928 kebaktian dilakukan dlm bahasa Tionghoa.  Jemaat pertama ini diberi nama Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwe. 

Jemaat ini tdk bertahan lama krn banyak dari mrk yg kembali ke negeri Tiongkok, shg anggota yg masih tinggal di Kutoarjo bergabung dengan GKJ dan mengadakan kebaktian setiap hari Selasa di rumah Sdr. Oei Gwat Siang. Ketika thn 1934 berdiri sekolah Chr. H.C.S., kebaktian dilakukan di sana setiap hari Senin dalam bahasa Indonesia.  Pd thn1935, kebaktian diubah menjadi setiap hari Minggu dan bertempat di rumah Sdr. Oei Gwat Ling, Jl. Raya 103, Kutoarjo, dng pelayan kebaktian Ds. S. H. Liem (Liem Siok Hie) dari Semarang. Thn 1936, Zending Gereformeerd Kerhen Uhechl mengutus Sdr. Tan King Hien untuk melayani sbg guru injil di Kutoarjo.  Tgl 12 Desember 1938, jemaat  Kutoarjo resmi memiliki gedung gereja sendiri di Jl. Raya 76, Kutoarjo. Pada tanggal 13 November 1941, jemaat Kutoarjo didewasakan.  Sejak didewasakan butuh waktu sekitar 20 thn sebelum Jemaat ini memiliki pendeta sendiri. Silih berganti para guru Injil melayani Jemaat Kutoarjo: guru injil Tan King Hien thn 1942 digantikan oleh Sdr. The Sing Liong, thn1943 digantikan oleh Sdr.  Tjoa Tjien Touw, thn 1950 digantikan oleh Sdr. Liem Djing Tiang, lalu kosong 2 thn dan thn 1953 masuklah Sdr. Nio Djoen Tjwan yg melayani smp thn 1961. Setelah kosong bbrp bulan masuklah Sdr. Djie Poen Hian dari Wonosobo. (seru ya, mirip Kej 5, daftar keturunan Adam)  Akhirnya, pd tgl 10 Oktober 1961, Sdr. Djie Poen Hian ditahbiskan menjadi Pendeta pertama Jemaat Kutoarjo.

Masih banyak hal-hal lain lagi yg terjadi di GKI Kutoarjo, tetapi jikalau semuanya itu hrs dituliskan satu per satu, maka agaknya introduksi ini tdk dpt memuat semua yg hrs ditulis itu.  Jadi..., ya Anda lihat sendirilah dalam dokumen sejarah GKI Kutoarjo dlm situs gkiswjateng.org  Saat ini GKI Kutoarjo yg menurut BI-BKI 2020 anggotanya berjumlah 258 org sedang berproses bersama Pnt. Andetta Philiea Dorothea sebagai calon pendeta. Pnt.Detta akan menemani kita dlm SG-GKI hari Rabu 1 Sept 2021. (Intro diambil dari catatan Pnt.Detta, dokumen sejarah GKI Kutoarjo dlm situs gkiswjateng.org, disunting oleh RN)


Selasa, 31 Agustus 2021

APA YANG DICARI DALAM HIDUP INI ?



 "Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu"

Tema : APA YANG DICARI DALAM HIDUP INI ? 
Nats : Pengkhotbah 1:2;2:21-23; Mazmur 1:1-3; Yeremia 17:7,8

Tujuan:
Belajar mengerti bahwa tujuan hidup bukanlah sekedar ini dan itu tapi melakukan apa yang dikehendaki Allah, yang perlu dicari adalah hal yang terpenting bukan hal duniawi.

Pendahuluan

Beberapa puluh tahun yang lalu, ada beberapa negara yang produksinya yang sangat baik, barang tersebut dapat digunakan sampai puas dan demikian awet, misalnya barang-barang produksi Jerman atau dari RRC. Modelnya memang kurang menarik tapi mutunya luar biasa. Tahan lama dan tahan banting. Beda dengan produksi zaman sekarang, sekali pakai lalu buang, jika yang dibeli bergaransi 1 tahun, maka setelah pakai 1 tahun barang tersebut dijamin akan rusak.

Juga, karena dizaman industri, segala macam barang kebutuhan sehari-hari demikian banyaknya dipasarkan di toko-toko pusat perbelanjaan, dipasar, super market dan warung-warung. Semua barang kebutuhan dapat ditemukan dengan berbegai mode, bentuk dengan warna yang indah. Harga tidak terlalu mahal, namun barang-barang tersebut tidak mungkin dapat dipakai terlalu lama, apalagi akan diwariskan kepada anak-anak dikemudian hari. Jika di simpan, dua bulan kemudian sudah ketinggalan mode, dan sudah dianggap barang ketinggalan zaman. Jadi jangan pikir barang tersebut akan diwariskan atau disimpan sampai 25 tahun kemudian. Habis garansi dijamin barang tersebut sudah dipensiunkan dan tidak bakalan akan dipakai oleh anak cucu lagi.

Barang-barang industri zaman sekarang tidak menunjukan bahwa kita kaya, atau kebahagiaan hidup kita, semua itu hanya menunjukan bahwa kita sedang mengikuti trendnya zaman. Trendnya zaman yang sia-sia, yang membosankan.

Ada yang menganggap dengan adanya kedudukan berarti hidupnya akan bahagia, benarkah demikian? Berapa lama kedudukan akan berpihak pada kita? Bukankah kedudukan itu lebih menggambarkan kita bermain curang? Berapa banyak orang yang dapat mempertahankan kedudukannya tanpa harus main curang ?

Jika kita mendengar pengajaran yang disampaikan oleh Pengkhotbah, maka kita akan mengerti bahwa sebenarnya segala sesuatu diakhiri dengan kesia-siaan

Pengkhotbah 1:2;2:22,23. Kesia-siaan belaka, kata Pengkhotbah, segala sesuatu adalah sia-sia. Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya? Seluruh hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati, bahkan pada malam hari hatinya tidak tenteram. Inipun sia-sia.

Jika demikian apakah benar orang yang berpendapat bahwa kebahagiaan terletak pada perkara duniawi, seperti memiliki harta benda, kedudukan, kekayaan, prestasi ??

Tuhan Yesus memberikan pengajaran yang indah untuk kita renungkan bersama pada hari ini Markus 8:36,37. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?

Selanjutnya kita akan merenungkan bersama beberapa pokok pengajaran penting:

1. Orang berkata: No money no happy.

Orang Tapanuli ( Batak) berkata ise mengatur negara on, hepeng! Siapa yang mengatur negara ini ? Jawabannya adalah, UANG ! Dengan uang kita dapat mengatur negara. Kalau demikian kita harus cari uang yang banyak. Orang Inggeris berkata Time is Money. Waktu adalah uang, jadi jangan sia-siakan waktu. Kalau orang Tionghua Chien paling penting, Uang adalah segalanya, bagi orang Tionghua dilangit ada dewa kekayaan yang boleh kita ajak kongkalikong. Bagaimana pula dengan orang Jawa ? Ooh, gampang, cari aja Nyi Blorong, sembahlah dia maka kekayaan akan datang dengan limpahnya.

Karena itu banyak orang yang ingin mencari kekayaan nyawapun dia rela gadaikan, bukankah orang yang demikian banyak terdapat disekitar kita?

Ilustrasi:

Saudara yang kekasih, Ada satu keluarga di Jawa Timur, dapat dikatakan keluarga ini sangat kaya, namun dalam keluarga ini diantara beberapa anaknya terdapat satu yang idiot, satu lagi tabrakan mobil hingga hancur. Isteri menjadi gila. Kasihan sekali, jika mendengar cerita keluarga ini, tetapi apa yang mau dikata? Untuk mendapatkan kekayaan tersebut kepala keluarga ini telah menggadaikan isteri dan anak-anaknya pada kuasa kegelapan.

Kekayaan apakah penting ? Penting sekali! Uang juga sangat dan sangat diperlukan sekali dalam kehidupan di zaman modern ini, tapi bukan yang utama dan yang mendatangkan kebahagiaan. Uang hanyalah alat yang membantu kita untuk bertransaksi, jadi bukan tuan, bukan yang mengatur kehidupan kita. Uang hanyalah alat bantu belaka.

Ingatlah apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus di Markus 8:36,37. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya. Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?

Apa gunanya dengan banyak uang, harta benda, tetapi tidak dapat dan tidak bisa menggunakannya atau menikmatinya? Apakah mereka yang berlimpah kekayaannya berbahagia? Bukankah kekayaan itu hanyalah sesuatu yang relatif saja? Orang yang menyalahgunakan kemampuan diri, yang memelihara kuasa kegelapan demi kekayaan, orang kaya yang demikian percayalah tidak pernah akan bahagia. Ketika melihat isteri yang gila apakah bahagia? Ketika melihat anak yang idiot apakah bahagia? Ketika mengingat anak mati karena tabrakan apakah akan bahagia?

Saudara, Dalam Alkitab bukankah Tuhan Yesus pernah mengajar Matius 6:19,20. "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.

Kalau kita lalai maka kekayaan dunia akan menjadi alat untuk mengundang pencuri datang mencuri dan merampok. Sekalipun sudah dibuatkan pagar rumah yang tinggi, memelihara anjing yang paling galak, memasang alram dan segala macam pengaman untuk menyelamatkannya, namun apa yang terjadi? Ngengat dan karat, bahkan perampok menghabiskannya. Jika Tuhan mengizinkannya, peristiwa Ayub akan terulang kembali, hanya dengan satu hari satu malam saja, seluruh harta benda Ayub habis dan hilang dirampok

Saudara yang kekasih, dari pengajaran Tuhan Yesus diatas cukup jelas, bahwa kita perlu melipat gandakan harta kekayaan kita, yaitu dengan menginveskannya dalam sorga yaitu dalam pekerjaan Tuhan. Dengan harta kekayaan, kita membangun Kerajaan Allah dalam dunia ini, membantu pekerjaan Tuhan dalam misi, dalam gereja, di sekolah Teologi, panti asuhan dan banyak lagi pekerjaan Tuhan yang lainnya.

Dengan demikian harta kekayaan yang kita inves kan di tempat-tempat tersebut akan membuat kita menerima berkat yang ganda; dalam dunia dan dalam sorga. Tambah memberi untuk pekerjaan Tuhan di dunia, berarti akan bertambah pula hati kita untuk pekerjaan Tuhan dan sorga, artinya kita menginveskan harta kita untuk pekerjaan Tuhan dalam dunia dan secara otomatis di sorga kita juga mendapatkan harta yang kekal. Selanjutnya Tuhan Yesus mengajar, Matius 6:21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Kalau harta kita ada pada pekerjaan Tuhan kita akan mengusahakan pekerjaan Tuhan itu bertumbuh dan berkembang, ingatlah, bahwa apa yang di inves kan dalam pekerjaan Tuhan ini memiliki nilai kekal. Jika harta kita berada di sorga, maka kita juga menaruh hati yang rindu ke sorga. Karena itu janganlah menyimpan harta dalam dunia ini tetapi menyimpannya dalam pekerjaan Tuhan dan di sorga. Jadi jelas kita perlu membuat harta kekayaan yang ada pada kita itu berlipat ganda, berganda baik dalam dunia dan dalam sorga yang akan datang. Itulah arti kebahagiaan yang bernilai kekal.

Dapat mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan merupakan kebahagiaan tersendiri sebab tidak selamanya Tuhan mempercayakan dan memberi kesempatan pada kita untuk mengambil bagian dalam pekerjaanNya. Dapat dikatakan tidak selalu ada kesempatan untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Misalnya, orang miskin yang sedang tidak punya uang untuk berobat, atau anaknya yang tidak punya uang untuk membayar uang sekolah, saat kita tahu, jika tidak segera menolong, mungkin dua tiga hari kemudian ketika kita sadar, orang miskin tersebut sudah meninggal dunia. Mungkin saat kita menyadari bahwa kita perlu menolong anak yang tidak mampu bayar uang sekolah, saat itu anak tersebut sudah di usir dari sekolahnya. Bukankah sering kita menemukan bahwa adakalanya ketika mau menolong orang yang tidak mampu, namun kita sudah tidak punya kesempatan lagi.

Saudara, Jangan berkata bagaimana saya dapat menolong orang, jika saya sendiri tidak punya ? Menolong orang tidak mesti harus dengan kekayaan, dapat menolong dengan tenaga, kepintaran, kemampuan dllnya. Bukankah kita sering mendengar, menolong orang jangan berikan ikan padanya, tetapi berikanlah kail padanya!

Kita membaca Kis Ras 20:35 Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima."

Janganlah kita menjadi orang yang have money but no happy.

2. Yang harus dicari Orang dalam hidup ini

Mazmur 1:1,2,3. Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Yeremia 17:7,8. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Saudara sebagai orang Kristen mungkin kita sering membaca dan mendengar firman tersebut dalam khotbah hari Mianggu, dan sangat menyadarinya bahwa kedua bagian Alkitab tersebut adalah kebenaran, dan pasti adalah kebenaran, tetapi kebenaran yang hanya tertulis dalam Alkitab saja, bukan dalam hati dan kehidupan nyata.

Pemazmur memberikan pengajaran pada kita, yaitu jangan mengambil bagian dalam kehidupan orang fasik, dalam hal berjalan dengan mereka, atau berdiri dan duduk dalam perkumpulan orang fasik Sebab orang yang disebut fasik adalah orang yang tahu ada TUHAN Allah, tetapi tidak mempedulikan perintah-Nya, tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan. Orang fasik dapat disamakan juga dengan orang atheis praktis, beda dengan orang atheis teoritis yang berpendapat bahwa Tuhan tidak ada berdasarkan teori-teori tertentu, misalnya komunisme. Sedangkan atheis praktis secara teoritis tidak menyangkal adanya Tuhan, tetapi secara praktis tidak mengakui dan menyembahNya. Orang atheis praktis tetap mengakui Tuhan, tetapi hidupnya seolah-olah Tuhan tidak ada. Siapa yang menganut faham atheis praktis ini ? Ada kemungkinan dianut oleh orang-orang yang beragama, mungkin juga yang sedang duduk bersama kita dalam gereja.

Saudara yang kekasih, ada sebagian orang, membutuhkan TUHAN karena ada suatu kebutuhan, Tuhan hanyalah kebutuhan tambahan atau penolong tambahan. Yaitu, jika sudah tidak berdaya, sudah tidak sanggup lagi menolong diri sendiri, misalnya, sakit yang tidak tertolong lagi oleh dokter, utang yang sudah bertumpuk tidak sanggup lagi membayar, barulah Tuhan dicari. Jadi, Saudara, janganlah menjadi orang yang hanya menganggap TUHAN itu sebagai bagian dari kebutuhan saja. Terlebih lagi sebagai ban serap saja.

Sebagai orang yang percaya pada Tuhan Yesus janganlah kita seperti orang fasik. Pemazmur berkata bahwa orang fasik seperti sekam yang ditiupkan angin, dan TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan. Mazmur 1:4,6

Tuhan Yesus memberikan pengajaran pada kita dalam Matius 6:33, Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Mencari kerajaan Allah dan kebenaranNya, adalah seperti yang dikatakan Pemazmur, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Inilah orang yang berbahagia, yaitu orang yang sanggup bergaul, hidup dekat dengan TUHAN, Pemazmur mengumpamakannya seperti pohon, Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Nabi Yeremia berkata: Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.Yer 17:7,8

Penutup:

Bukankah indah sekali janji firman Tuhan? Pohon ditepi aliran air, daunnya selalu hijau, tidak kuatir dalam tahun kering atau panas terik, dan ini yang terpenting, tidak berhenti menghasilkan buah. Bukankah dengan terlebih dahulu mencari Kerajaan Allah dan KebenaranNya kita memperoleh segala yang dibutuhkan ?

Apa yang sedang kita cari dalam hidup ini? Yang bernilai kekal, atau yang bernilai fana, sesuatu yang sementara? Apa yang sedang kita cari ? Mencarinya dengan bersandar pada TUHAN atau mencarinya dengan segala kemampuan diri? Tuhan Yesus berkata dalam Matius 11:28, Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Jika kita datang kepada TUHAN maka Ia akan memberikan kebahagiaan, kelegaan pada kita, maukah kita datang padaNya? Dia sedang mengundang kita, Dia sedang menunggu kita, apalagi yang sedang engkau cari? AMIN.

POSTINGAN TERAKHIR

ADAKAH PERANAN TUHAN DALAM KEBERHASILAN SESEORANG ?

  "Adakah Peranan Tuhan dalam Keberhasilan Seseorang?" Sahabat Nafiri Kasih , Ada seorang yang Bernama David tumbuh besar deng...

POPULER DIBACA