Kamis, 04 Januari 2018

Benarkah Melayani Karena "Mbesenggi" ?


Suatu hari seusai sebuah acara seminar, ketua kelompok mengajak berkumpul semua teamnya untuk briefing, ketua kelompok mengatakan : bapak , ibu , saudara dan rekan semua .. begini , gereja sudah mengutus kita mengikuti seminar ini dengan biaya yang tidak sedikit lho ya .. jadi jangan sampai kita tidak berbuat sesuatu  setelah ini untuk gereja .. dst ..

Sempat terpikir .. bener juga ya apa yang disampaikan itu .. masa sih kita pulang dengan tangan hampa tanpa berbuat sesuatu , padahal gereja sudah mengutus dan "mbayari" untuk mengikuti seminar ini .. tapi sebentar dulu .. kok rasanya ada yang mengganjal nih.

Kalau alasan nya karena gereja sudah "mbayari" sebagai dasar pelayanan kita , ah kurang setuju .. karena berarti dasar pelayanan kita itu jadinya karena sungkan, gak enak ati dong alias "mbesenggi" .. itu namanya belengkat .. belenggu yang mengikat .. kalau sudah begitu nanti pastinya akan banyak mbesenggi-mbesenggi  lain yang menyusul .. contoh , mau jadi penatua karena mbesenggi,  gak enak ati nih abis yang minta pendeta, udah dua kali lagi ngomongnya .. atau .. pelayanan di paduan suara  karena mbesenggi , abis gimana janji setiap kali latihan diantar jemput .. diajak makan .. dibayari lagi .. atau mau jadi pengurus karena mbesenggi .. lha gimana tidak .. udah ditawari aja sampai tiga kali , pas lagi butuh duit dikasih pinjam .. sakit dibesuk .. gak enak ati ah kalu nolak ..dll.

Kenapa orang punya perasaan gak enak alias "mbesenggi" sama orang yang sudah "berjasa" sama diri nya ya ? apa ini salah ? rasanya gak juga .. bagus dong kalau masih punya rasa "mbesenggi" itu namanya masih tau diri .. tau berterima kasih .. tau balas budi ..
Tapi kenapa kalau itu dikaitaan dengan pelayanan kok rasanya kurang tepat ?

Didalam 1 Kor 13, rasul Paulus menekankan betapa pentingnya "Kasih" , sepandai apapun, sehebat apapun pelayanan kita tanpa adanya kasih maka semuanya itu tidak bernilai dihadapan Tuhan.
Jikalau apa yang kita lakukan hanya sekedar "mbesenggi" atau suatu kewajiban, bahkan jika ada orang yang mengorbankan hidupnya untuk dibakar sekalipun tetapi jika tidak memiliki kasih, maka sama sekali tidak ada gunanya. Tanpa kasih sehebat apapun prestasi dan kerja keras pelayanan kita semua itu percuma dan sia-saia .

Mengapa "kasih" begitu penting ? ya karena Allah yang kita sembah adalah "Kasih" , maka jikalau kita mengenal Allah yang adalah "kasih" maka orang itu harus memiliki dan memancarkan Kasih sebagai dasar dari segala lakunya supaya Allah dimuliakan (1 Kor 10 :31).

Ya .. Kasih kepada Kristus yang sudah menganugerahkan hidup kekal kepada kita adalah dasar nya .. memang Allah tidak pernah menuntut orang Kristen untuk membayar pengorbanan Kristus di kayu salib, dan memang hal itu adalah suatu kemustahilan. Namun Allah menuntut dan memerintahkan setiap orang Kristen untuk hidup bagi Dia, bekerja bagi Dia , memuliakan Dia dalam segala sikap, tingkah laku dan perbuatan umat Nya.

Apakah Anda melayani karena "mbesenggi" atau karena ungkapan Kasih anda kepada Kristus ? semoga ketua kelompok tersebut diatas hanya salah ngomong saja .. karena saking semangatnya, tapi hatinya sebenarnya mengasihi Kristus.

Amin.

Salam hangat dari team Nafiri Kasih.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

POSTINGAN TERAKHIR

Hidup Harus Bersyukur

Hidup Harus Bersyukur 1 Tesalonika 5 : 18 "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allaah di dalam Kristus Y...

POPULER DIBACA