Jumat, 24 April 2015

Pohon Didalam Taman Eden

renungan kristen

Sobat, kita akan mencermati Firman Allah dari ketinggian, kita menjelajahi Alkitab dengan menggunakan tema tentang pohon di dalam Taman Eden, pohon kehidupan di dalam Langit yang Baru dan Bumi yang Baru, serta pohon di mana Kristus disalibkan.

1-Di dalam taman (Kejadian 2) ada dua pohon di sana: pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat serta pohon kehidupan. Kedua pohon ini sama-sama berada di tengah-tengah taman tersebut, dan menandakan pentingnya posisi keduanya. Mengapa berfokus pada kedua pohon ini? Pohon-pohon tersebut terlibat di dalam sebuah ikatan perjanjian (covenant), suatu relasi di antara dua pihak, yaitu Allah dan manusia. Adam mewakili seluruh umat manusia ketika ia tidak taat dan melanggar perjanjian itu (Hosea 6:7, 1 Korintus 15:22). Pohon-pohon itu bukan sekadar tumbuhan yang hidup, tetapi juga suatu ekspresi dari kehidupan rohani di dalam relasi dengan Tuhan. Di dalam ikatan perjanjian itu terdapat sebuah perintah (2:16), yang menguji Adam untuk taat dengan satu syarat. Semua pohon yang lain boleh dinikmati, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat dilarang baginya. Adam harus memilih dan ia gagal dalam ujian itu. Adam memilih untuk tidak taat kepada Allah dan sebuah kutukan serta konsekuensinya mengikuti, yaitu kematian rohani dan jasmani (Kejadian 3). Kejadian 3:22-24 menyatakan belas kasihan Allah ketika Ia melindungi Adam dari pohon kehidupan supaya ia tidak hidup selamanya di dalam dosa, terpisah dari Allah. Di dalam belas kasihan-Nya, Allah tidak menginginkan keturunan Adam untuk terpisah selamanya dari diri-Nya.

2- Pohon kehidupan di dalam Langit yang Baru dan Bumi yang Baru (Wahyu 22:1-5) tampil untuk pertama kalinya semenjak Taman Eden. Kali ini pohon tersebut bisa diakses oleh seluruh umat Allah karena pohon ini memberikan kesembuhan dan menopang kehidupan untuk selama-lamanya. Fokus di dalam Langit yang Baru dan Bumi yang Baru adalah kehidupan kekal bersama Tuhan, dengan menggarisbawahi dihapuskannya dosa untuk selama-lamanya serta rekonsiliasi di antara Allah dan manusia. Bagaimanakah dosa bisa disingkirkan dan umat-Nya bisa diperdamaikan?

3- Pohon yang ada di tengah-tengah Alkitab itu adalah salib, yang adalah pohon Kematian. Salib adalah tempat di mana Sang Raja di atas segala raja mendamaikan diri-Nya dengan umat-Nya. Yesus menjadi kutuk bagi kita sehingga kita bisa diperdamaikan dengan Allah. Yesus menanggung segala konsekuensi yang mestinya kita terima! Sehingga kita bisa masuk ke dalam kemuliaan-Nya.

Kuasa dari substitusi yang agung ini bisa dilihat di dalam tiga perintah:
>Allah kepada Adam: “Taatlah kepada-Ku, maka kamu akan hidup, kamu dapat makan dari pohon kehidupan dan hidup untuk selama-lamanya.”
> Bapa kepada Yesus: "Taatlah kepada-Ku, maka Engkau akan mati." Yesus adalah Adam kedua yang hidup secara sempurna bagi kita (ketaatan aktif) dan mengalami kematian yang selayaknya kita terima (ketaatan pasif).
>Yesus kepada kita sekarang:" Percayalah kepada-Ku, maka kamu akan hidup.” Oleh karena iman (dan hanya melalui iman saja!) kita diselamatkan!

Alkitab disatukan oleh Perjanjian, dan jika kita tidak memahami Perjanjian Anugerah, kita tidak akan dapat memahami Alkitab dan tidak akan pernah mengerti apa yang ingin dikatakan Allah kepada kita melalui Firman-Nya. 

Suatu perjanjian adalah suatu kesepakatan di antara dua pihak, pihak pemegang otoritas yang memberikan janji-janji, serta pihak bawahan (vassal) yang memiliki sejumlah kewajiban untuk menerima janji-janji itu. Allah adalah Raja dan Ia mengikat suatu perjanjian dengan Adam, dengan menjanjikan hidup kekal dan hidup yang seutuhnya di tempat kediaman Allah jika Adam taat dan tidak makan buah dari pohon yang ada di tengah taman tersebut (Kejadian 1-2). Adam tidak taat dan justru melanggar perjanjian itu (Hosea 6:5) dan ia mati bersama semua keturunannya (1 Korintus 15:22). Kutuk dari perjanjian itu adalah maut, dihapusnya hidup kekal bersama Allah serta hidup yang seutuhnya yang bisa ditemukan di tempat kediaman Allah, yaitu taman tersebut (Kejadian 3). 

Allah memberikan suatu janji pengharapan di tengah kutuk tersebut, dengan menjanjian suatu benih keturunan dari perempuan itu (Hawa) yang akan mengalahkan si ular (Kejadian 3:15). Saat Allah mewahyukan diri-Nya serta relasi-Nya dengan umat-Nya di dalam Alkitab, Ia melakukannya melalui Perjanjian. 

Dengan Abraham, di dalam Kejadian 15-17, kita melihat betapa seriusnya pelanggaran perjanjian, sehingga pihak yang tidak taat akan diremukkan/tercabik-cabik.  
Dalam belas kasihan, kita melihat Tuhan yang direpresentasikan oleh suluh berapi dan perapian yang berasap, yang melewati bagian yang tercabik-cabik itu bagi umat-Nya. Di dalam Keluaran 34, kita melihat janji-janji dan kewajiban-kewajiban dari perjanjian Allah dengan umat-Nya melalui Musa dan belakangan dalam 2 Samuel 7 kita melihat benih awal dari janji itu dipersempit kepada salah satu keturunan dari Raja Daud. 

Para nabi mengharapkan janji-janji dari ikatan perjanjian Allah ketika umat Allah terus mengalami kutuk karena ketidaktaatan mereka. Umat Allah telah rindu untuk dikembalikan ke tempat kediaman Allah yang memberikan perdamaian, serta melalui karya Kristus dan “perjanjian yang baru melalui darah-Nya.” Umat Allah bisa memperoleh perdamaian dengan Allah (2 Korintus 5:14-21). 

Yesus telah diremukkan karena ketidaktaatan kita, dan menjadi korban karena ketidaktaatan kita, menjadi kutuk bagi kita (Galatia 3:10-14) ketika Ia menjadi dosa karena kita (2 Korintus 5:21) sehingga “di dalam Dia kita menjadi kebenaran Allah.” Semua janji dari ikatan perjanjian itu adalah “ya di dalam Kristus” (2 Korintus 1:20) sehingga kita bisa turut ambil bagian di dalam “perjanjian yang baru dan yang lebih baik” (Ibrani 8). Kepenuhan dari janji-janji di dalam ikatan perjanjian Allah ini, yang digenapi di dalam Kristus, ditemukan di dalam Langit yang Baru dan Bumi yang Baru!

Apa makna dari semuanya ini bagi kita saat ini?

1-Ketika Anda membaca janji-janji Allah di dalam Kejadian 2 dan Wahyu 22:1-5 janji yang manakah yang merupakan janji yang Anda rindukan?
2- Apakah sulit bagi Anda untuk percaya bahwa Yesus telah sepenuhnya menanggung kutuk yang selayaknya Anda terima karena dosa-dosa Anda? Renungkan segala upaya Anda untuk membuktikan diri Anda kepada Allah, dan pertimbangkan keletihan, kelelahan, dan ketakutan yang dialami jiwa Anda.
3- Dapatkah Anda mengenali dalam hal apakah Anda hidup tanpa benar-benar mempercayai karya Allah di dalam Kristus? Bertobatlah dari kebenaran karena perbuatan-perbuatan Anda sendiri, serta citra diri hasil polesan Anda di Facebook yang diatur untuk menunjukkan bahwa diri kita tidak orang lain.
4- Dapatkah Anda merayakan apa yang telah Allah lakukan bagi Anda melalui kasih-Nya? Bersukacitalah di dalam fakta bahwa Tuhan melihat Anda di dalam kebenaran Yesus. Ia melihat Anda, segala pergumulan dan keberhasilan Anda, dan tawaran yang diberikan oleh injil adalah agar kita bebas, berhenti berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan diri kita. Bisakah Anda merayakan kasih-Nya yang tidak pernah gagal itu terhadap diri Anda?

Yesus berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu." Matius 11:28
Biarlah doa yang diadaptasi dari The Valley of Vision ini menuntun Anda di dalam kehidupan Anda yang terus bergantung kepada Kristus:  

“Aku sepenuhnya bergantung kepada-Mu, O Tuhan. Tolong lepaskan aku dari segala ketergantungan kepada hal lain. Engkaulah segalanya bagiku dan Engkau mengatasi segala sesuatu ketika Engkau berkenan kepadaku. Engkau adalah dasar dari kebaikan, bagaimana mungkin aku tidak percaya kepada-Mu? Bagaimana aku bisa kuatir tentang apa yang terjadi padaku? Kiranya aku mengasihi-Mu, Sumber Berkatku, di dalam segala berkat yang kuterima, tanpa pernah melupakan bahwa bahaya terbesar yang kuhadapi justru muncul dari segala keistimewaan yang kumiliki. Karya-Mu di dalam Kristus adalah kekuatan dan pengharapanku, yang menunjukkan kepadaku kasih yang sejati. Ajarkan kepadaku bahwa kasih yang sejati berbeda dengan jenis kasih yang diperoleh berdasarkan argumen-argumen rasional atau yang dimotivasi oleh kepentingan pribadi, bahwa kasih yang sejati adalah hasrat yang memuaskan yang memberikan sukacita kepada akal budiku sekarang. Karuniakan kepadaku anugerah untuk membedakan kasih yang sejati dari kasih yang palsu, serta untuk membuatku bersandar kepada-Mu yang adalah kasih yang sempurna. Aku sepenuhnya percaya kepada-Mu, O Tuhan. ”

Ide utama dari bacaan ini adalah menemukan kelegaan di dalam karya Allah di dalam Kristus. Bagaimana apakah Anda bisa menemukan kelegaan ketika Anda merenungkan karya Allah bagi Anda? Bagaimanakah Anda bisa berhenti mengandalkan perbuatan-perbuatan baik Anda, usaha memoles diri dan mengatur citra diri Anda? Apakah Anda bisa memikul kuk Kristus bagi diri Anda, menanggungnya bersama dengan Pencipta dan Penebus Anda? 

Amin .. semoga bermanfaat .. salam hangat dari team Nafiri Kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

POSTINGAN TERAKHIR

Hidup Harus Bersyukur

Hidup Harus Bersyukur 1 Tesalonika 5 : 18 "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allaah di dalam Kristus Y...

POPULER DIBACA